Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Prediksi BMKG: Kemarau Samarinda 2026 Lebih Panas, Juli-September Jadi Puncak Risiko Bencana

Denny Saputra • Selasa, 14 April 2026 | 17:27 WIB
Ilustrasi foto karhutla. BPBD memetakan wilayah Samarinda Utara dan Palaran sebagai zona rawan kebakaran hutan dan lahan, serta mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. (IST)Ilustrasi foto karhutla. BPBD memetakan wilayah Samarinda Utara dan Palaran sebagai zona rawan kebakaran hutan dan lahan, serta mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. (IST)

 

SAMARINDA-Pemerintah Kota Samarinda resmi mengeluarkan surat imbauan bernomor 300.2/0913/300/06 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau dan Pencegahan Kebakaran Hutan, Lahan, serta Permukiman 2026. Surat yang ditandatangani Wali Kota Samarinda pada 6 April 2026 itu memuat enam poin penting yang wajib diperhatikan seluruh lapisan masyarakat.

Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Hamzah Umar menjelaskan, bahwa imbauan tersebut didasarkan pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut prediksi itu, Kalimantan Timur termasuk Samarinda akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari biasanya, dengan kondisi yang lebih kering dan lebih panas. Puncaknya diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026.

Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang Mei 2026! Harga Pangan di Kaltim Terancam Meroket, Ini Langkah BI

"Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Termasuk tidak membakar sampah di pekarangan, lahan kosong, maupun lahan pertanian, terutama saat angin kencang dan suhu tinggi," ujarnya Selasa (14/4). Selain larangan membakar, warga juga diimbau mewaspadai kebakaran permukiman dengan rutin memeriksa instalasi listrik.

Hamzah mengingatkan bahwa cuaca panas memperparah risiko korsleting, terutama jika satu colokan digunakan untuk beberapa perangkat berdaya besar sekaligus seperti kulkas, setrika, dan rice cooker. "Kebakaran di dealer Jalan P Antasari belum lama ini disebabkan korsleting akibat kelebihan beban arus listrik. Ini harus jadi pelajaran untuk kembali mengecek ulang jarigan listrik di rumah," tegasnya.

Untuk karhutla, dua kecamatan paling rawan adalah Samarinda Utara dan Palaran, mengingat mayoritas wilayahnya merupakan kawasan pertanian dengan permukiman yang masih jarang.  Dia menambahkan, surat imbauan ini telah didistribusikan hingga ke tingkat RT melalui relawan dan jajaran camat serta lurah. Warga yang menemukan potensi kebakaran diminta segera melapor ke RT setempat, BPBD, atau Dinas Pemadam Kebakaran yang memiliki 11 posko di 10 kecamatan. “Terkait ketersediaan air, Samarinda relatif aman karena dilalui Sungai Mahakam. Namun masyarakat tetap diminta bijak menggunakan air bersih, mengingat sumber air baku juga berpotensi terus menyusut,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#musim kemarau 2026 #samarinda #karhutla