KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) harus mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang datang lebih cepat. Sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam agenda rapat daring, Kamis (16/4).
Kepala BMKG Kota Samarinda Riza Arian Noor menegaskan informasi ini bukan sekadar data statistik rutin, melainkan menjadi kunci penting dalam mendukung ketahanan pangan. “Ini juga menjadi langkah preventif mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kekeringan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring awal April, kondisi El Nino Southern Oscilation (ENSO) dan Indian Oscillation Dipole (IOD) saat ini berada pada posisi netral.
Namun, BMKG memprediksi ENSO akan berkembang menjadi El Nino lemah pada periode Mei–Juni–Juli. Dinamika ini dipastikan memengaruhi pola musim di Kaltim.
Baca Juga: Kasus Korupsi Marak di Kutai Timur, Fungsi Kontrol DPRD Dipertanyakan
"Kami dari BMKG tidak mengenal istilah El Nino Godzilla. Yang kami kenal adalah El Nino dengan intensitas tertentu, yakni lemah, moderat, dan tinggi," jelasnya.
Kaltim sendiri terdiri dari 20 zona musim. Sebanyak 16 zona memiliki dua musim, hujan dan kemarau, sementara empat zona merupakan wilayah hujan sepanjang tahun, meliputi Kabupaten Mahulu dan sebagian Kutai Barat.
Secara umum, awal kemarau di Kaltim diprediksi jatuh pada Juni-Agustus 2026. Sebanyak 40 persen wilayah zona musim diprediksi memasuki kemarau mulai Juni. “Yang lebih mengkhawatirkan, 35 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih awal dari kondisi rata-rata 30 tahun terakhir,” singkatnya.
Dia menambahkan, sifat hujan sepanjang 2026 diprediksi di bawah normal, dengan puncak kemarau umumnya terjadi pada Agustus. Adapun panjang musim kemarau diperkirakan berlangsung tiga hingga empat bulan.
Baca Juga: Mayat Pria Tak Dikenal Ditemukan Warga Gunung Empat Balikpapan Barat
"Kami berharap informasi ini bermanfaat, khususnya untuk kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. BPBD dan BWS sudah bisa mulai mengambil langkah-langkah mitigasi sejak dini," pungkasnya.
Sebagai informasi, sebelumnya, Pemkot Samarinda resmi mengeluarkan surat imbauan bernomor 300.2/0913/300/06 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau dan Pencegahan Kebakaran Hutan, Lahan, serta Permukiman 2026 sejak (6/4) lalu.
Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Hamzah Umar menjelaskan dari laporan BMKG Kalimantan Timur termasuk Samarinda akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari biasanya, dengan kondisi yang lebih kering dan lebih panas. Puncaknya diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026.
"Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Termasuk tidak membakar sampah di pekarangan, lahan kosong, maupun lahan pertanian, terutama saat angin kencang dan suhu tinggi," ujarnya Selasa (14/4). (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo