SAMARINDA- BPBD Samarinda mulai memetakan titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya musim kemarau. Langkah ini difokuskan pada identifikasi sumber air seperti embung di wilayah rawan. Upaya tersebut ditujukan mempercepat penanganan saat kebakaran terjadi.
Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya telah menugaskan tim untuk mendata embung di sejumlah kawasan. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Kecamatan Samarinda Utara, Sungai Kunjang, Sambutan dan Palaran. “Kalau ada embung terdekat, pemadaman bisa lebih cepat dan efektif,” ujarnya, Rabu (6/5).
Dia menjelaskan, sepanjang April lalu, sejumlah kejadian kebakaran lahan sudah mulai terdeteksi. Di antaranya terjadi di kawasan Gang Sayur, Sempaja Utara, dan Lok Bahu, Sungai Kunjang dengan total tiga titik. “Beruntung lokasinya dekat permukiman sehingga cepat ditangani,” jelasnya.
Dia mengungkapkan sebagian besar kebakaran dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Kondisi angin kencang membuat api mudah meluas dan sulit dikendalikan. “Ada yang awalnya bakar sampah atau lahan, tapi merembet ke semak dan meluas,” ungkapnya.
Dia menambahkan, sntuk penanganan darurat, BPBD memastikan kesiapan suplai air bersih bersama Damkar dan Perumdam Tirta Kencana. Kolaborasi juga melibatkan relawan dalam distribusi air ke wilayah terdampak. “Kami selalu berbagi peran, laporan bisa masuk ke BPBD, relawan, atau PDAM, nanti ditindaklanjuti bersama,” tegasnya.
Dia menyebut puncak kemarau diperkirakan terjadi Juli-Agustus dan masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Ada sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda miliaran rupiah, jadi sebaiknya dihindari,” terangnya.
Selain itu, BPBD juga mendorong masyarakat melakukan panen air hujan sebagai langkah antisipasi. Air yang ditampung di tandon atau bak dinilai bisa menjadi cadangan saat terjadi krisis air bersih. “Ini penting, terutama kalau ada gangguan distribusi air, cadangan itu bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani