SAMARINDA- Cuaca di Kota Samarinda belakangan terasa tidak menentu. Setelah beberapa hari panas dan cenderung kering, hujan kembali turun di sejumlah wilayah dengan intensitas berbeda-beda. Kondisi itu disebut masih bagian dari anomali cuaca dan masa peralihan musim atau pancaroba.
Prakirawan BMKG Samarinda M Zaki Ramdhani menjelaskan, prakiraan curah hujan di Kalimantan Timur, termasuk Samarinda, masih berada pada kategori menengah. Dalam satu dasarian atau periode 10 hari, curah hujan diprediksi berkisar 50 hingga 100 milimeter.
“Seputar update prakiraan ke depan, kami tetap konsisten bahwa curah hujan masih berada di kategori menengah antara 50 sampai 100 milimeter dalam satu dasarian,” ujarnya, Senin (11/5).
Menurut Zaki, kondisi panas yang sempat berlangsung cukup lama disusul hujan beberapa hari terakhir dipengaruhi pola arus angin di Kalimantan. Saat ini terdapat belokan angin di wilayah selatan Pulau Kalimantan yang menyebabkan konsentrasi uap air berpindah ke kawasan perbatasan Kalimantan Tengah dan Malaysia.
Di sisi lain, Samarinda kini memasuki fase pancaroba atau peralihan dari musim hujan menuju kemarau. Pada fase tersebut, kondisi atmosfer cenderung sangat labil sehingga cuaca mudah berubah dalam waktu singkat.
“Sekarang memang sudah masuk fase peralihan musim hujan ke kemarau, jadi pancaroba dan masih sangat labil,” katanya.
Ia menambahkan, peluang hujan di Samarinda masih cukup tinggi dan bahkan dapat terjadi hampir setiap hari. Namun, pola hujan yang terjadi lebih bersifat lokal sehingga tidak merata di seluruh wilayah kota.
BMKG mencatat kondisi itu beberapa kali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Misalnya, saat hujan turun di pusat kota, wilayah Sungai Siring belum diguyur hujan. Begitu pula sebaliknya, termasuk di kawasan Samarinda Seberang.
“Kalau hujan lokal itu tergantung arah dan kecepatan angin. Kalau arah anginnya tidak masuk ke kota, belum tentu terjadi hujan di wilayah tersebut,” tambahnya.
Zaki memperkirakan musim kemarau di Samarinda baru berpotensi mulai sekitar Juni mendatang. Namun, perubahan waktu tetap mungkin terjadi mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. “Tidak memungkiri lagi kalau prakiraan musim kemarau bisa sedikit maju dengan yg pernah prediksi,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani