KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Harapan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui operasional insinerator mulai menemukan formulanya.
Setelah uji coba tahap awal dinilai kurang efektif, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda kini mengubah strategi dengan menyiapkan sistem Tempat Penampungan Sementara (TPS) Terpilah sebagai pemasok utama sampah ke insinerator.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, saat ini seluruh petugas dan 10 unit insinerator yang tersebar di sembilan lokasi sudah beroperasi.
Namun statusnya masih dalam tahap uji coba untuk mencari pola pengelolaan yang paling efektif. Menurutnya, pada tahap awal DLH mencoba mengangkut sampah langsung dari TPS ke insinerator.
Hasilnya, metode tersebut justru tidak efisien karena sampah yang masuk masih bercampur antara sampah kering dan basah.
"Kami coba membawa sampah langsung dari TPS ke insinerator. Ternyata tidak efektif karena proses pemilahannya lama. Satu dump truck berisi tiga sampai empat ton sampah bisa membutuhkan waktu hingga lima hari untuk dipilah dan diproses," ujarnya, Jumat (12/6).
Ia menjelaskan, dari seluruh sampah yang dibawa ke insinerator, hanya sekitar sepertiga yang berhasil dibakar. Sementara sisanya tetap harus diangkut kembali ke TPA. Kondisi itu membuat pekerjaan menjadi dua kali lipat dan tidak efisien.
Berdasarkan evaluasi tersebut, DLH memutuskan mengubah pola pengelolaan dengan menyiapkan TPS Terpilah. Melalui sistem ini, masyarakat didorong melakukan pemilahan sampah sejak awal sebelum masuk ke pembakaran insinerator.
Baca Juga: Dishub Tegaskan Tak Abai, Tetap Soroti Persoalan Parkir Kafe di Jalan Slamet Riyadi
DLH bahkan menargetkan sedikitnya 10 TPS Terpilah tersebar di berbagai wilayah Samarinda untuk menunjang operasional insinerator. Salah satu lokasi yang dipersiapkan sebagai pilot project berada di TPS Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang.
"Nanti TPS Terpilah inilah yang menjadi pemasok sampah ke insinerator. Saat kami coba menggunakan sampah yang sudah terpilah, kapasitas pembakaran sekitar tiga ton bisa habis dalam waktu kurang dari setengah hari," jelasnya.
Menurut Taufiq, sampah yang sudah dipilah jauh lebih mudah diproses karena hanya menyisakan pemisahan sampah B3 atau jenis sampah yang memang tidak boleh dibakar. Berbeda dengan sampah campuran yang didominasi sampah basah sehingga menghambat proses pembakaran.
DLH juga mengaku telah berkomunikasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan terkait rencana tersebut. Pemilihan lokasi TPS Terpilah dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan tingkat aksesibilitas dan dukungan masyarakat sekitar.
"Kami belajar dari pengalaman sebelumnya ketika TPS Terpilah belum berhasil. Sekarang kami mencoba pola baru dengan memilih lokasi yang aksesnya lebih terbatas sehingga edukasi kepada masyarakat bisa lebih mudah dilakukan," ungkapnya.
Baca Juga: Ribuan Peserta PBI Dinonaktifkan, BPJS Bontang Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Terjamin
Pada tahap awal, DLH berencana menempatkan petugas di TPS Terpilah untuk memberikan edukasi kepada warga terkait pemilahan sampah. Masyarakat nantinya dapat memilah sampah dari rumah atau melakukannya saat tiba di TPS.
"Kami ingin masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Kalau sistem ini berhasil, maka operasional insinerator akan jauh lebih efektif dan tujuan pengurangan sampah ke TPA bisa tercapai," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo