KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dan tekanan fiskal yang dirasakan hampir seluruh daerah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda tetap melanjutkan transformasi digital pada layanan persampahan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memasang GPS tracker pada armada pengangkut sampah untuk meningkatkan pengawasan operasional sekaligus menekan biaya bahan bakar minyak (BBM).
Meski masih dalam tahap awal, program tersebut mulai menunjukkan hasil. Konsumsi BBM armada pengangkut sampah berhasil ditekan hingga 8 persen pada periode Januari-April 2026, meski jumlah dump truck yang beroperasi bertambah dari 61 unit menjadi 71 unit.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, biaya pemasangan perangkat tersebut relatif terjangkau sehingga tidak terlalu membebani anggaran daerah. "Untuk satu unit dump truck biayanya sekitar Rp300 ribu per bulan. Itu sudah termasuk perangkat GPS tracker, pemasangan, dan dashboard laporan yang bisa kami akses. Saat ini sudah terpasang di 30 armada dari total 71 dump truck yang kami miliki," ujarnya.
Taufiq menyampaikan, pemasangan perangkat tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang selama ini juga melayani perusahaan-perusahaan sektor pertambangan.
Namun demikian, DLH Samarinda tidak ingin selamanya bergantung pada vendor. DLH bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda tengah menyiapkan sistem digital GPS tracker yang nantinya dapat dikembangkan secara mandiri sesuai kebutuhan layanan persampahan di Kota Tepian. "Target kami sebenarnya tahun depan bisa mandiri. Teman-teman Diskominfo sedang berproses menyiapkan perangkat dan aplikasinya. Kalau nanti sistem milik sendiri sudah siap, tentu akan kami gunakan," jelasnya.
Ia menjelaskan, sistem yang saat ini digunakan masih memiliki sejumlah keterbatasan karena dirancang untuk kebutuhan industri lain. Sementara sektor persampahan memiliki karakteristik operasional yang berbeda dan memerlukan fitur yang lebih spesifik.
Karena itu, DLH berharap sistem yang dikembangkan Diskominfo nantinya mampu menghadirkan berbagai fitur tambahan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan. Di antaranya memantau kondisi kontainer sampah di TPS, mengukur efektivitas rute pengangkutan, pengawasan rute armada, hingga menyajikan laporan operasional yang lebih rinci.
Saat ini, 30 armada yang telah dipasangi GPS tracker akan terus digunakan hingga akhir tahun. Sementara pengembangan ke seluruh armada masih menunggu hasil koordinasi dan perkembangan sistem yang tengah disiapkan Diskominfo.
"Untuk penambahan perangkat ke seluruh armada, kami akan melihat perkembangan tahun depan. Yang jelas sekarang sudah ada tim bersama Diskominfo untuk mempersiapkan aplikasi dan perangkat GPS tracker yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelayanan persampahan," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani