KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pertumbuhan penduduk di Samarinda yang terus meningkat seiring perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan bagi daerah.
Salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan lapangan kerja yang harus mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda Yakob Pangedongan mengatakan, peningkatan jumlah penduduk harus dibarengi dengan kebijakan ketenagakerjaan yang mampu melindungi tenaga kerja lokal sekaligus membuka peluang kerja baru.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin penting mengingat banyak tenaga kerja yang sebelumnya terlibat dalam proyek pembangunan IKN kini membutuhkan pekerjaan baru setelah sejumlah proyek memasuki tahap penyelesaian.
Baca Juga: Gempa Sulteng M 6,7 Terasa di Big Mall Samarinda dan Balikpapan, Ini Penjelasan BMKG
"Pertambahan penduduk ini menjadi potensi sekaligus tantangan. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana jumlah lapangan kerja bisa seimbang dengan pertumbuhan penduduk yang ada," ujarnya, Senin (16/6).
Yakob menilai pemerintah perlu mempersiapkan langkah antisipatif agar masyarakat lokal tidak kalah bersaing di tengah masuknya penduduk baru maupun tenaga kerja dari luar daerah.
Ia juga mendorong adanya kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi tenaga kerja lokal untuk terserap di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Samarinda.
"Kita ingin ada semacam proteksi. Misalnya berapa persen tenaga kerja lokal yang harus diakomodasi oleh setiap perusahaan. Tetapi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan standar masing-masing perusahaan," tegasnya.
Baca Juga: Pasokan Pangan Kaltim Didominasi Domestik, Biaya Logistik Tetap Jadi Ancaman
Meski demikian, Yakob mengingatkan bahwa perlindungan tenaga kerja lokal harus dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, tenaga kerja lokal harus mampu memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan dunia usaha.
"Jangan sampai sudah diberikan kesempatan, tetapi tenaga kerja lokal tidak memenuhi kualifikasi. Ini yang harus dipersiapkan agar masyarakat Samarinda tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo