SAMARINDA – Keluhan warga terkait limbah yang mengalir dari kawasan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda di Jalan Padat Karya, Desa Bayur, Sempaja Utara, mulai ditangani serius. Pemerintah Kota Samarinda bersama pihak lapas menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari normalisasi drainase hingga pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal sebagai solusi jangka panjang.
Kepala Subbagian Tata Usaha Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Bowo Kustiawan, mengatakan persoalan tersebut telah ditindaklanjuti melalui peninjauan lapangan bersama tim gabungan yang dibentuk Pemkot Samarinda.
“Setelah melihat kondisi di lapangan, kami berkoordinasi dengan Pemkot Samarinda. Hari ini seluruh tim turun langsung untuk melihat persoalan dan solusi yang harus dilakukan,” ujarnya, Rabu (17/6).
Sebagai langkah awal, kerja bakti massal dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (20/6) untuk membersihkan saluran drainase dan aliran air yang selama ini mengalami penyumbatan.
Menurut Bowo, persoalan limbah turut dipengaruhi kondisi lapas yang mengalami kelebihan kapasitas penghuni. Dari kapasitas ideal sekitar 450 warga binaan, saat ini jumlah penghuni mencapai 999 orang.
Kondisi tersebut membuat beban septic tank dan sistem pengolahan limbah meningkat, sehingga sebagian air buangan meluap ke lingkungan sekitar.
“Beberapa septic tank sudah kami benahi. Memang kapasitas penghuni yang jauh melebihi daya tampung berdampak pada sistem pembuangan yang ada,” katanya.
Ia menjelaskan, lapas sebenarnya memiliki tiga titik IPAL. Namun fasilitas tersebut tidak lagi berfungsi optimal sehingga pengelolaan limbah selama ini hanya dilakukan melalui sistem pengendapan sederhana.
Untuk penanganan jangka panjang, pihak lapas mendukung rencana pembangunan IPAL komunal yang digagas Pemkot Samarinda. Fasilitas tersebut direncanakan dibangun di belakang dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan terintegrasi dengan sistem pengolahan limbah yang ada.
“Nanti IPAL komunal itu direncanakan terintegrasi dengan IPAL SPPG sehingga pengelolaan limbah bisa lebih maksimal,” jelasnya.
Selain itu, lapas juga berharap pemerintah dapat merealisasikan pembangunan saluran drainase menuju Sungai Bayur. Saat ini aliran drainase masih berakhir di lahan persawahan warga sehingga air tidak mengalir dengan lancar.
Warga mengusulkan pembebasan lahan sepanjang sekitar 229 meter agar saluran drainase yang ada dapat diperpanjang hingga terhubung langsung ke Sungai Bayur.
“Kami berharap solusi jangka panjang ini bisa segera direalisasikan sehingga persoalan limbah dan drainase yang selama ini dikeluhkan warga dapat terselesaikan,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan