SAMARINDA – Di tengah dominasi komoditas batu bara dan kelapa sawit, Kalimantan Timur mulai menumbuhkan harapan baru melalui kopi Liberika. Komoditas yang mampu tumbuh di dataran rendah, bahkan dekat kawasan pesisir, dinilai memiliki prospek besar sebagai sumber ekonomi baru bagi daerah.
Salah seorang pengembang kopi Liberika Kaltim, Slamet Prayoga atau akrab disapa Yoga, mengatakan pengembangan Liberika di Benua Etam masih berada pada tahap awal. Saat ini, luas kebun Liberika diperkirakan belum mencapai 100 hektare dan tersebar di Penajam Paser Utara, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu hingga Berau.
Meski demikian, ia optimistis kopi Liberika akan menjadi komoditas unggulan baru apabila dikembangkan secara serius.
Optimisme itu pula yang mendorong Yoga bersama sejumlah pegiat kopi menjadi sponsor bagi barista asal Kalimantan Timur, Utari Citra Ichsani (Uci) dari Ethics Coffee, yang akan berlaga pada Indonesia Coffee Championship (ICC) Regional 2 di Jakarta pekan depan. Menurutnya, keikutsertaan tersebut menjadi momentum memperkenalkan identitas kopi khas Kalimantan Timur kepada penikmat kopi nasional.
Baca Juga: Barista Samarinda Bawa Kopi Liberika Kaltim ke Indonesia Coffee Championship 2026
"Yang paling utama adalah mengenalkan bahwa Kalimantan Timur punya kopi. Liberika mudah tumbuh, sangat bandel, bisa ditanam mulai nol meter di atas permukaan laut hingga sekitar 120 meter dan tetap menghasilkan dengan baik. Kalau ini dikembangkan, bisa menjadi komoditas baru yang menguntungkan daerah," ujarnya saat ditemui di Kedai Kopi Malabar, Jalan Slamet Riyadi, Gang Al Mujahidin, Samarinda, Jumat (3/7).
Yoga menjelaskan, peluang pasar kopi Liberika terus terbuka dan mulai menarik minat petani muda untuk ikut membudidayakannya. Di Berau, misalnya, mulai bermunculan pekebun baru, termasuk lulusan politeknik pertanian yang berani membuka kebun Liberika hingga beberapa hektare.
Menurutnya, permintaan terhadap kopi Liberika Kaltim juga mulai berdatangan, tidak hanya dari pasar domestik tetapi juga luar negeri.
"Permintaan sudah mulai ada. Pasarnya bukan hanya dalam negeri, tetapi juga internasional," katanya.
Keunggulan lain Liberika, lanjut Yoga, terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan kondisi geografis Kalimantan Timur. Berbeda dengan Arabika maupun Robusta yang membutuhkan dataran tinggi, Liberika mampu tumbuh optimal di dataran rendah hingga kawasan pesisir.
Ia mencontohkan kebun Liberika di kawasan Pantai Indah Kurma, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara, yang berjarak sekitar 50 hingga 70 meter dari bibir pantai tetap mampu menghasilkan buah dengan baik.
Selain itu, tanaman Liberika juga dinilai lebih mudah dibudidayakan. Dengan sistem tanam tinggal (STT), pohon kopi mulai berproduksi sekitar tiga tahun setelah penanaman bibit.
Yoga juga meyakini kualitas Liberika Kaltim mampu bersaing di pasar premium. Karakter rasanya yang khas, menyerupai aroma buah nangka, dinilai memiliki daya tarik tersendiri apabila didukung pengolahan pascapanen yang baik.
"Kopi Liberika punya cita rasa khas yang berbeda. Potensinya bisa menjadi kopi premium, bahkan specialty. Kami terus melakukan penelitian dan pengembangan sejak 2019," ucapnya.
Menurut Yoga, perjalanan memperkenalkan Liberika memang masih panjang. Namun setiap kebun yang tumbuh dan setiap cangkir kopi yang tersaji menjadi langkah awal membangun identitas baru Kalimantan Timur sebagai salah satu daerah penghasil kopi Liberika berkualitas.
"Kami berharap suatu saat nanti Kalimantan Timur dikenal sebagai rumah bagi kopi Liberika yang mampu bersaing di pasar dunia," pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan