KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengakui operasional insinerator yang mulai digunakan untuk mengurangi volume sampah masih menghadapi sejumlah tantangan.
Kendala terbesar bukan pada mesin, melainkan sampah yang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Di sisi lain, proses pembakaran juga masih bergantung pada pasokan limbah kayu agar suhu mesin dapat mencapai tingkat ideal.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, kondisi sampah yang belum dipilah sejak dari sumber, membuat proses pembakaran berjalan jauh dari target.
“Di awal proses kita mulai menggunakan insinerator, salah satu hambatan utama memang sampah yang tercampur. Sampah basah tidak boleh masuk ke mesin insinerator karena akan menghasilkan asap,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan tersebut membuat proses pengolahan sampah menjadi jauh lebih lama. Saat uji coba menggunakan satu dump truck sampah segar dari tempat penampungan sementara (TPS), DLH membutuhkan waktu hingga lima hari hanya untuk menghabiskan sekitar tiga hingga empat ton sampah.
“Kenapa sampai lima hari, karena banyak sampah basah yang tercampur. Jadi kami harus memilah dulu secara manual. Proses pemilahan itu yang akhirnya memakan waktu,” katanya.
Dari hasil pemilahan tersebut, lanjut Taufiq, hanya sekitar sepertiga sampah yang dapat langsung dibakar di dalam insinerator. Sementara dua pertiga sisanya tetap harus diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Baca Juga: Dapat Sentuhan Baru, Honda Monkey Makin Ikonik dan Tampil Beda
“Setelah dipilah pun, hasil yang bisa dibakar hanya sekitar sepertiganya. Dua pertiga sisanya kami bawa lagi ke TPA,” jelasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A