Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Skrining HIV Digenjot, Hingga Mei 184 Kasus Baru Ditemukan, LSL Masih Dominasi Temuan Kasus

M Hafiz Alfaruqi • Minggu, 12 Juli 2026 | 18:15 WIB
Kepala Diskes Samarinda dr Ismid Kusasih. HAFIZ/KP
Kepala Diskes Samarinda dr Ismid Kusasih. HAFIZ/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda terus memperluas skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebagai upaya menemukan kasus sedini mungkin dan menekan angka kematian akibat Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Hingga pertengahan 2026, ratusan kasus baru berhasil ditemukan melalui pemeriksaan yang dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan.

Kepala Diskes Samarinda dr Ismid Kusasih mengatakan, target skrining HIV pada 2026 mencapai 43.189 sasaran. Hingga akhir Juni, sebanyak 19.577 orang atau sekitar 45 persen telah menjalani pemeriksaan.

"Dari hasil skrining sampai akhir Mei ditemukan 184 kasus baru HIV. Dari jumlah itu, sebanyak 145 orang sudah menjalani pengobatan," ujarnya, Sabtu (11/7).

Baca Juga: Asah Permainan Atlet, Misi PB Hevindo Raih Hasil Maksimal di Sirnas C Bontang

Menurut dr Ismid, sebagian penderita yang belum menjalani terapi masih terus diedukasi agar bersedia memulai pengobatan. Sebab, penderita HIV harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin seumur hidup agar virus tidak berkembang menjadi AIDS.

Capaian skrining justru menjadi indikator penting dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Semakin tinggi cakupan pemeriksaan, semakin besar peluang menemukan kasus sejak dini.

Pada 2025, Diskes berhasil mencapai hampir 99 persen target skrining dengan temuan 492 kasus baru HIV sepanjang tahun. Sementara secara kumulatif hingga Juni 2026, jumlah temuan kasus HIV di Samarinda mencapai sekitar 4.300 orang.

"Yang aktif menjalani pengobatan sekitar 2.211 orang. Perlu dipahami, data itu bersifat kumulatif dan tidak semuanya warga Samarinda. Ada juga pasien dari luar daerah yang berobat di Samarinda sehingga tercatat di sini," jelasnya.

Baca Juga: Proyek Drainase Belimbing Capai 86 Persen, Dinas PUPRK Bontang Pastikan Rampung Sesuai Target

Dari sisi angka kematian, sepanjang 2025 tercatat 103 penderita meninggal dunia. Sedangkan hingga Mei 2026, angka kematian mencapai 29 kasus.

Dr Ismid menegaskan, sebagian besar kematian terjadi ketika penderita telah memasuki fase AIDS, yakni kondisi saat sistem kekebalan tubuh menurun drastis sehingga rentan terserang penyakit lain.

"Yang meninggal biasanya sudah dalam kondisi AIDS. Mereka umumnya meninggal karena penyakit penyerta seperti TBC, hipertensi dan lain-lain, bukan semata-mata karena HIV," katanya.

Berdasarkan hasil pemetaan Diskes, kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) masih menjadi penyumbang terbesar kasus HIV dengan persentase sekitar 41 persen.

Disusul populasi umum sebesar 16 persen, pasangan orang dengan HIV (ODHIV) sebanyak 15 persen, pelanggan pekerja seksual 12 persen, dan pasien TBC sekitar 9 persen.

Meski demikian, dr Ismid menilai tingginya angka temuan bukan berarti kasus HIV semakin tidak terkendali. Menurutnya, peningkatan jumlah kasus justru dipengaruhi semakin masifnya kegiatan skrining.

Baca Juga: Urus Legalitas 114 Makam Wakaf, Disperkimtan PPU Kejar Semenisasi Jalan Akses Peziarah hingga Penajam

"Kalau daerah tidak melakukan skrining, tentu kasusnya terlihat sedikit. Padahal belum tentu memang sedikit. Karena itu Kementerian Kesehatan menilai keberhasilan daerah dari cakupan skriningnya," tegasnya.

Penanggulangan HIV tidak dapat dibebankan kepada sektor kesehatan semata. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan, tokoh agama, organisasi masyarakat hingga keluarga untuk meningkatkan edukasi dan mencegah perilaku seksual berisiko.

"HIV adalah masalah bersama. Yang paling penting, kalau sudah ditemukan harus segera diobati. Obatnya juga gratis dan sudah tersedia di sejumlah puskesmas maupun rumah sakit," ujarnya.

Baca Juga: Kasus DBD di Bontang Mulai Merangkak Naik, Diskes Minta Warga Waspada

Dr Ismid mengimbau masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV, melainkan mendukung mereka agar rutin menjalani pengobatan.

"Jangan jauhi orangnya, tetapi jauhi penyakitnya. Yang paling penting adalah menghindari perilaku seks bebas dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan skrining apabila berisiko," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Kasus HIV Samarinda #Skrining HIV Samarinda #Kasus HIV 2026 #hiv aids #Dinas Kesehatan Samarinda