KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memanfaatkan momentum tersebut untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada para pelajar.
Melalui program Inspektorat Goes to School, pendidikan karakter dan integritas mulai diperkenalkan sejak bangku sekolah sebagai upaya mencetak generasi yang berakhlak dan bebas dari praktik korupsi.
Program tersebut resmi dibuka di SMP Negeri 22 Samarinda, Senin (13/7) dan menjadi bagian dari agenda rutin Inspektorat Kota Samarinda yang setiap tahun menyasar sekolah-sekolah di bawah kewenangan pemerintah kota.
Baca Juga: Sambungan Air Ilegal Marak di Samarinda, Perumda Tirta Kencana Terapkan Sanksi Hingga Belasan Juta
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Santi mengatakan, kegiatan tersebut sengaja diselaraskan dengan pelaksanaan MPLS karena dinilai menjadi waktu yang tepat untuk membangun karakter peserta didik.
"Ini memang agenda rutin Inspektorat. Kebetulan momennya bertepatan dengan MPLS, sehingga kita manfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai integritas sejak dini," ujarnya, Senin (13/7).
Menurut Neneng, pendidikan karakter paling efektif diberikan saat anak masih duduk di bangku SD dan SMP. Karena itu, pemerintah memilih masuk langsung ke sekolah agar nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dapat tertanam sejak awal.
"Kita ingin membangun bibit-bibit unggul. Kalau nanti ingin mendapatkan ASN yang berintegritas, tentu pembinaannya harus dimulai dari sekarang, sejak mereka masih sekolah," jelasnya.
Baca Juga: Jawab Kritikan DPRD, Wawali Balikpapan Beberkan Rencana Atasi Krisis Air dan Banjir DAS Ampal
Inspektorat Goes to School merupakan salah satu rangkaian program penguatan integritas yang dijalankan Pemkot Samarinda. Selain sosialisasi di sekolah, edukasi antikorupsi juga rutin dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk membuka stan layanan saat Car Free Day.
Tahun ini, sasaran program diperluas ke sekolah-sekolah yang berada di kawasan pinggiran kota. Berbeda dengan pelaksanaan tahun sebelumnya yang lebih banyak menyasar sekolah di pusat Kota Samarinda.
"Kalau tahun lalu banyak di sekolah-sekolah tengah kota, tahun ini kita arahkan ke wilayah pinggiran agar pemerataan edukasi bisa tercapai," katanya.
Sementara itu, Plt Inspektur Daerah Kota Samarinda, Firdaus Akbar, mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mendorong pendidikan antikorupsi dimulai sejak usia dini.
"Fungsi Inspektorat bukan hanya melakukan pengawasan, tetapi juga memastikan pendidikan antikorupsi masuk ke dunia pendidikan. Momentum usia sekolah inilah yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut," ujarnya.
Meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Inspektorat tetap mempertahankan program tersebut sebagai salah satu prioritas. Tahun ini, kegiatan dijadwalkan menyasar 10 SMP yang tersebar di 10 kecamatan di Kota Samarinda.
Baca Juga: SUV Hybrid Pertama Mitsubishi Siap Mengaspal di Indonesia, Debut Perdana di Jakarta
"Targetnya satu sekolah di setiap kecamatan. Ini bentuk pemerataan agar seluruh wilayah mendapatkan akses edukasi yang sama," jelas Firdaus.
Program tersebut akan berlangsung selama sekitar satu bulan dengan melibatkan penyuluh antikorupsi, duta antikorupsi, mahasiswa, serta perwakilan perangkat daerah.
Ke depan, Inspektorat juga berencana memperluas sasaran hingga jenjang sekolah dasar apabila dukungan anggaran memungkinkan. "Harapan kami, pendidikan integritas ini tidak berhenti di tingkat SMP saja. Kalau anggaran memungkinkan, SD juga akan menjadi sasaran berikutnya," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo