KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 menjadi momen istimewa bagi banyak keluarga.
Pemerintah pun mendorong keterlibatan ayah melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) sebagai bagian dari penguatan peran keluarga dalam pendidikan.
Gerakan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 3275/PK.02/J13/2026 tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Baca Juga: Disdikbud Kutim Minta Sekolah Tak Hanya Kenalkan Fasilitas, MPLS Harus Bangun Karakter Siswa Baru
Sejumlah pemerintah daerah bahkan memberikan fleksibilitas jam kerja atau work from anywhere (WFA) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki anak usia sekolah agar dapat mengantar buah hati pada hari pertama masuk sekolah.
Semangat itu juga terlihat di SD Muhammadiyah 2 Samarinda. Maulani Al Amin bersama sang istri mengantar putrinya, Hanna Fatima Amizah, yang untuk pertama kalinya menginjak bangku sekolah dasar.
Meski sekolah turut mengimbau orang tua mendampingi anak pada hari pertama MPLS, Maulani mengatakan kebiasaan mengantar anak telah dilakukannya sejak Hanna masih bersekolah di taman kanak-kanak.
“Sejak TK memang sudah rutin mengantar anak sekolah karena kapan lagi bisa bonding sama anak. Waktu saya lebih banyak bekerja, jadi momen antar-jemput ini menjadi media untuk bersama anak,” ujarnya.
Baca Juga: Kredit Bank Tumbuh 11,51 Persen, OJK Ungkap Sektor yang Jadi Penggerak Utama
Menurutnya, keberadaan imbauan dari sekolah bukan menjadi alasan utama dirinya hadir mengantar anak. “Memang ada imbauan dari sekolah untuk mengantar anak di hari pertama MPLS. Tapi alasan terbesar bukan itu. Ada atau tidak ada imbauan, saya tetap mengantar anak,” katanya.
Bagi Maulani, perjalanan menuju sekolah menjadi waktu yang sangat berharga untuk membangun komunikasi dengan putrinya.
Ia memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan berbagai nasihat, mulai dari cara bersosialisasi dengan teman, menghormati guru dan orang yang lebih tua, menjaga diri, hingga berbincang mengenai pelajaran di sekolah.
“Selebihnya ya ngobrol hal-hal sehari-hari saja. Yang penting komunikasi dengan anak tetap terjalin,” tuturnya. Tak hanya itu, hari pertama Hanna mengenakan seragam merah putih juga menghadirkan rasa haru bagi dirinya.
“Enggak terasa banget, time flies so fast. Ada harunya melihat anak saya sudah menginjak sekolah dasar,” ungkapnya. Karena itu, Maulani berkomitmen menjadikan kegiatan mengantar anak sebagai rutinitas, bukan hanya dilakukan saat MPLS.
“Buat saya ini sudah menjadi kewajiban. Bukan cuma momen MPLS saja, ke depannya saya ingin tetap rutin mengantar anak sekolah,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo