Anggaran Riset Kaltim Menyusut, BRIDA Tetap Targetkan 30 Penelitian dengan Cara Ini

Denny Saputra • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05 WIB
Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah. DOK/KP
Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah. DOK/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur berupaya menjaga produktivitas penelitian di tengah penurunan anggaran riset.

Tahun ini, lembaga tersebut menargetkan tetap menghasilkan sekitar 20 hingga 30 penelitian melalui berbagai strategi efisiensi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, perusahaan, hingga lembaga nonpemerintah.

Langkah itu dilakukan agar hasil riset tetap mampu mendukung pembangunan daerah meski dengan keterbatasan pembiayaan. Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah mengatakan, anggaran penelitian dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan dari kisaran angka tertinggi sekitar Rp 30 miliar lebih menjadi sekitar Rp 19 miliar.

Baca Juga: KPK Dorong Kampanye Antikorupsi di Daerah, Pemkab Kubar Siapkan Strategi Ini

Sebagian besar anggaran yang tersedia juga terserap untuk belanja rutin, sehingga ruang pembiayaan penelitian semakin terbatas. "Kami tidak berkecil hati. Kami mencari pendanaan riset dari luar, baik melalui perguruan tinggi, perusahaan, maupun lembaga luar negeri," ujarnya, Rabu (22/7).

Menurut dia, BRIDA menerapkan strategi penelitian yang lebih efisien agar jumlah riset tidak berkurang. Salah satunya dengan mengubah metode pengambilan sampel di lapangan. Jika sebelumnya penelitian dilakukan di 10 kabupaten dan kota, kini hanya dilakukan di beberapa daerah yang dinilai mewakili.

"Metodologinya kami sesuaikan seminimal mungkin supaya riset tetap berjalan, meskipun memang ada pengaruh terhadap hasilnya," jelasnya.

Baca Juga: Kantong Parkir Truk Masih Wacana, Dishub Samarinda Dorong Relokasi Pergudangan ke Terminal Multipurpose Palaran

Dia menambahkan, biaya terbesar dalam penelitian berasal dari perjalanan dinas dan pengujian laboratorium. BRIDA belum memiliki laboratorium sendiri sehingga masih memanfaatkan fasilitas milik perguruan tinggi.

Karena itu, kolaborasi tidak hanya dilakukan pada pelaksanaan penelitian, tetapi juga pembiayaannya melalui skema join research dan join funding. "Kalau ada riset Rp 100 juta, misalnya separuh dibiayai BRIDA dan separuh lagi dari mitra. Jadi kolaborasi juga dalam pendanaannya," tambahnya.

Dia pun tetap menekankan kualitas dan pemanfaatan hasil penelitian, meski anggaran terbatas. Setiap riset diharapkan memberikan dampak nyata terhadap penyelesaian persoalan pembangunan maupun pengembangan potensi unggulan daerah.

"Kami mengukur bukan hanya jumlah riset, tetapi bagaimana hasilnya benar-benar dimanfaatkan dan berdampak bagi pembangunan Kaltim," tegasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
anggaran riset Kaltim penelitian Kaltim riset dan inovasi daerah pendanaan riset BRIDA Kaltim