KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Momentum 130 tahun penetapan kawasan Vierkante Paal dimanfaatkan komunitas Samarinda Walking Tour bersama Lasaloka-KSB untuk mengajak masyarakat, khususnya Generasi Z, mengenal sejarah Kota Tepian.
Melalui kegiatan Samarinda Walking Tour bertajuk Titik Nol Samarinda, sebanyak 25 peserta diajak menyusuri sejumlah situs bersejarah di pusat Kota Samarinda, pada Ahad (26/7).
Tur sejarah tersebut dipandu guru sejarah Muhammad Ilham Syahputra dengan pendampingan sejarawan publik Muhammad Sarip. Di setiap titik pemberhentian, peserta mendapat penjelasan sejarah yang diperkuat dengan dokumentasi foto-foto klasik era kolonial berukuran besar.
Baca Juga: Antrean BBM Subsidi Mengular, Pemkot Samarinda Minta SPBU Benahi Pelayanan
Ilham mengatakan, jumlah peserta sengaja dibatasi agar penyampaian materi lebih efektif dan peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib.
“Kegiatan ini merupakan kolaborasi komunitas Samarinda Walking Tour dan Lasaloka-KSB, dengan kepesertaan yang terbatas 25 orang supaya tour guide dapat lebih efektif dalam memberikan narasi dan peserta juga bisa lebih tertib,” ujarnya kepada Kaltimpost.id.
Rute napak tilas dimulai dari Kantor Pos di Jalan Gajah Mada sebagai titik kumpul. Peserta kemudian berjalan menuju Gereja Katedral di Jalan Jenderal Sudirman yang pertama kali dibangun pada 1956 dan direnovasi pada 2019. Di kawasan tersebut juga terdapat bangunan Lembaga Pemasyarakatan yang telah berdiri sejak masa kolonial Belanda.
Perjalanan berlanjut ke eks Lapangan Kinibalu yang kini menjadi lokasi Masjid Pemprov Kaltim. Di tempat itu, peserta dikenalkan dengan peristiwa pembakaran benda pusaka Kesultanan Kutai yang terjadi pada 1965.
Baca Juga: Cabor Terancam Dipangkas di Porprov Kaltim VIII, KONI Balikpapan Minta PB Kaji Ulang
Selanjutnya rombongan mengunjungi Gereja GPIB yang berada di dekat Kantor Gubernur Kaltim. Pada masa Hindia Belanda, gereja tersebut masih berupa bangunan kayu dan berada tidak jauh dari Kantor Asisten Residen Oost Borneo.
Rute kemudian mengarah ke Kerkhof atau makam Belanda di Jalan Arjuna. Di lokasi tersebut masih terdapat sekitar delapan pusara yang memuat nama jenazah, tahun wafat, serta doa-doa berbahasa Belanda.
Perjalanan diteruskan menuju eks kolam renang Belanda yang kini menjadi kantor PDAM Tirta Kencana serta bekas gedung Societeit Koetei yang saat ini difungsikan sebagai Kantor Sekretariat DPD RI.
Sebelum tur berakhir, peserta kembali ke kawasan Kantor Pos dan diajak melihat Gedung BRI di persimpangan Jalan Awang Long dan Gajah Mada. Bangunan itu, menurut penjelasan pemandu, sebelumnya merupakan Hotel Mahakam pada masa kolonial sebelum kemudian difungsikan sebagai Kantor DPRD Kaltim periode pertama pada 1957.
Sejarawan publik Muhammad Sarip menjelaskan, kawasan Vierkante Paal memiliki nilai historis penting karena menjadi pusat pemerintahan kolonial di Kaltim.
“Wilayah Vierkante Paal Samarinda ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan Besluit atau Surat Keputusan tertanggal 16 Agustus 1896, sehingga pada 2026 ini tepat berusia 130 tahun,” ungkapnya.
Baca Juga: Personel Lantas Jadi Inspektur Upacara Sekolah, Ini Pesannya pada Siswa
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta menerima kartu pos bergambar Kantor Pos Samarinda tahun 1920 sebagai suvenir.
Ilham menambahkan, rute Titik Nol Samarinda merupakan tur sejarah keempat yang telah digelar komunitas tersebut. Sebelumnya mereka telah mengangkat rute Jejak Cendekiawan, Pecinan, dan Sekolah Tionghoa.
“Rute Titik Nol Samarinda ini adalah tur keempat, setelah rute jejak cendekiawan, rute Pecinan, dan rute sekolah Tionghoa. Samarinda Walking Tour akan kembali menempuh rute lain tiap dua hingga tiga pekan sekali,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo