SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda bergerak cepat menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait asap dari insinerator pengolah sampah. Pemeriksaan lapangan dilakukan pada Sabtu (25/7) untuk mengidentifikasi penyebab munculnya asap tebal saat proses pembakaran. Hasil sementara menunjukkan sejumlah faktor operasional menjadi perhatian dan akan dievaluasi lebih lanjut.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, saat kejadian asap mengepul suhu ruang bakar telah berada di atas 700 derajat Celsius sesuai standar operasional prosedur (SOP). Sampah yang dibakar juga merupakan sampah kering hasil pemilahan.
Namun, sebagian besar material berupa daun-daun kering yang memang meningkat selama musim kemarau. "Dalam beberapa percobaan, daun hijau maupun daun kering sama-sama berpotensi menghasilkan asap yang cukup tebal," jelasnya, Senin (27/7).
Dia menjelaskan, dari pengecekan saat insinerator beroperasi asap fugitive atau asap yang keluar melalui celah kontrol, pintu, atau sambungan ruang bakar tidak melewati saluran (duct) menuju sistem pengendalian emisi. Evaluasi sementara, kondisi itu akibat volume sampah yang dimasukkan melebihi kapasitas hisap kipas (fan).
"Sesuai SOP, ketika asap fugitif mulai banyak, operator harus mengurangi bahkan menghentikan pasokan sampah. Namun oleh tim justru sampah kembali ditambahkan sehingga asap semakin tebal," jelasnya.
Dia menegaskan, DLH akan memberikan teguran kepada operator sekaligus menggelar penyegaran dan pelatihan ulang SOP bagi seluruh petugas pengoperasi insinerator pada pekan ini.
Evaluasi menyeluruh terhadap hasil uji coba sejak awal pengoperasian hingga Juli 2026 juga akan disusun dalam laporan khusus kepada Wali Kota Samarinda. “Tentunya ini bagian dari penyegaran, karena sejak Juli ini semua insinerator sudah memasuki ujicoba,” tegasnya.
Selain itu, DLH berencana berkoordinasi dengan vendor mesin Wisanggeni II guna mencari kemungkinan penyempurnaan teknologi. Taufiq menilai temuan di Samarinda dapat menjadi masukan bagi pengembangan sistem insinerator.
"Teknologi tentu terus berkembang. Sebagai pengguna, kami menyampaikan temuan ini agar dapat dicari solusi dan penyempurnaan ke depannya," pungkasnya.
Sebelumnya, insinerator di Jalan Wanyi, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara mulai menuai keluhan warga. Sejumlah warga melaporkan adanya asap yang muncul saat fasilitas pengurang sampah tersebut beroperasi dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Ketua RT 22 Kelurahan Sempaja Timur, Asriansyah, laporan dari warga mulai diterimanya sejak insinerator yang berada di seberang Rusunawa Wanyi memasuki tahap operasional. "Warga tidak menolak proyeknya, tetapi berharap dampak asapnya tidak mengganggu lingkungan sekitar," katanya, dikonfirmasi Minggu (26/7). (*)
Editor : Ismet Rifani