KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Genangan air yang kerap muncul di ruas jalan depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan cold storage di kawasan Harapan Baru, Loa Janan Ilir, menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Wali Kota Andi Harun menegaskan penanganan persoalan tersebut tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi drainase yang ada.
Menurut Andi Harun, lokasi tersebut berada di jalur (trase) nasional sehingga setiap penanganan, terutama jika menyangkut pembangunan saluran baru, harus melalui koordinasi.
"Jalan di depan ini merupakan trase jalan nasional. Secara umum, kalau ada genangan di kawasan yang berdekatan dengan sungai, solusi paling efektif adalah membuang aliran air langsung ke sungai. Tetapi tentu semua harus diawali dengan asesmen teknis," ujarnya, Kamis (30/7).
Baca Juga: Pedagang Pasar Pagi Minta Penataan Dirombak FP3: Megah Secara Fisik, Sepi Secara Ekonomi
Ia menjelaskan, Pemkot telah memiliki pengalaman menangani persoalan serupa di beberapa lokasi, seperti kawasan Perumahan Haji Saleh di Loa Janan Ilir dan Jalan Cermai.
Untuk kawasan Jalan Cermai, tahun ini pemerintah berencana membangun sodetan menuju Sungai Mahakam di sekitar kawasan Bank BTN sebagai upaya mengatasi genangan dan banjir di wilayah Pasundan.
Namun, rencana tersebut masih memerlukan proses perizinan dan koordinasi karena melintasi jalan nasional. "Kalau di Jalan Cermai nanti akan dilakukan sodetan langsung ke Sungai Mahakam. Tapi karena berada di trase jalan nasional, tentu harus ada izin dan koordinasi terlebih dahulu," jelasnya.
AH menyebut, metode serupa sebelumnya telah berhasil diterapkan di Jalan Bung Tomo, Samarinda Seberang. Saluran air dari kawasan Jalan Rel disodet langsung menuju Sungai Mahakam sehingga genangan banjir yang selama ini terjadi berhasil diatasi.
Baca Juga: DPRD Kutai Barat Bersama TAPD Bahas Evaluasi Realisasi APBD Semester I 2026
Meski demikian, AH menegaskan pembangunan sodetan bukan menjadi pilihan pertama. Pemkot akan lebih dulu memaksimalkan fungsi drainase yang ada melalui normalisasi saluran, pengangkatan sedimen, serta menghilangkan berbagai sumbatan yang selama ini menghambat aliran air.
"Kalau dengan memperbaiki kapasitas drainase, mengangkat sedimen, dan memastikan tidak ada lagi sampah yang menyumbat saluran ternyata sudah bisa mengatasi genangan, tentu itu yang didahulukan karena lebih efisien," tegasnya.
Apabila berbagai upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan, barulah pemerintah akan menyiapkan langkah yang lebih besar, termasuk membangun saluran baru atau sodetan yang langsung mengalirkan air ke Sungai Mahakam.
"Kalau semua langkah itu sudah dilakukan tetapi genangan masih terjadi, maka jalan terakhirnya adalah membuat saluran baru atau sodetan langsung ke Sungai Mahakam," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo