Siswa SD SRT 2 Samarinda Jalani Asesmen, Penentuan Kelas Tak Berdasar Usia

Denny Saputra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 18:26 WIB
TERKINI: SRT 2 Samarinda tengah menjalani MPLS diikuti ratusan siswa jenjang SD-SMP-SMA tahun ajara 2026/2027.
TERKINI: SRT 2 Samarinda tengah menjalani MPLS diikuti ratusan siswa jenjang SD-SMP-SMA tahun ajara 2026/2027.

SAMARINDA – Sebanyak 90 dari total 270 siswa angkatan kedua Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Samarinda berasal dari jenjang sekolah dasar (SD). Namun, mereka tidak langsung ditempatkan ke kelas berdasarkan usia. Seluruh siswa akan menjalani asesmen awal selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk menentukan kemampuan akademik sekaligus kebutuhan pendampingan masing-masing.

Kepala SRT 2 Samarinda jenjang SD Pahrijal menjelaskan, penempatan kelas tidak bisa hanya mengacu pada umur siswa. Guru akan lebih dulu memetakan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sebelum menentukan kelas yang sesuai.

"Kalau ada anak berusia 12 tahun tetapi belum pernah sekolah, tentu tidak langsung kita masukkan ke kelas sesuai usianya. Kami asesmen dulu. Kalau ternyata sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung, bisa saja ditempatkan di kelas yang sesuai kemampuannya," ujarnya, Senin (3/8).

Pahrijal yang sebelumnya merupakan kepala SRT 57 Samarinda menerangkan, proses tersebut menjadi salah satu alasan MPLS di SRT 2 Samarinda berlangsung lebih panjang. Selain asesmen akademik, siswa juga menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai data awal yang akan dipantau secara berkala selama tinggal di asrama.

“Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala hingga lingkar perut untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang dan pencegahan stunting,” terangnya.

Dia menambahkan, pola pendidikan di SRT 2 Samarinda juga mengandalkan kolaborasi antara guru dan wali asuh di asrama. Materi yang diajarkan di kelas akan dilanjutkan kembali saat siswa berada di lingkungan asrama agar perkembangan mereka lebih cepat.

"Kalau di sekolah guru mengajarkan kemampuan dasar, malam harinya wali asuh akan melanjutkan pembinaan sesuai panduan yang diberikan guru. Jadi pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas," tambahnya.

Dia menyebut, pembinaan di asrama juga dimulai dari kebiasaan hidup mandiri, seperti mencuci pakaian, menjaga kebersihan diri, hingga menggunakan fasilitas asrama dengan benar, yang mana ini tugas pengawasan dari wali asrama.

“Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat proses adaptasi sekaligus mengejar ketertinggalan akademik siswa yang memiliki latar belakang pendidikan berbeda-beda,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Samarinda ikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pahrijal siswa jalani CKG