KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Jembatan Moeis Hassan atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Mahulu tak sekadar menjadi penghubung Kecamatan Sungai Kunjang dan Loa Janan Ilir.
Di balik lalu lintas kendaraan yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, ada ancaman yang terus membayangi. Tabrakan kapal angkutan batu bara dengan struktur jembatan.
Ancaman itu bukan sekadar kekhawatiran. Dalam rentang Desember 2025 hingga Januari 2026, Jembatan Mahulu tercatat tiga kali ditabrak tongkang. Rentetan insiden tersebut mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) mencari cara baru untuk memperkuat pengamanan jembatan.
Baca Juga: Kredit Korporasi Kaltim Tembus Rp135,55 Triliun, Tumbuh 12,88 Persen
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim kini menyiapkan sistem mitigasi berbasis teknologi bernama PERISAI-MU, atau platform sistem pengamanan di jembatan tersebut. Sistem itu dirancang sebagai early warning system yang mampu mendeteksi potensi tabrakan kapal dengan pilar maupun fender jembatan. Harapannya, peringatan dapat diberikan sebelum kapal berada terlalu dekat dengan struktur vital jembatan.
Kabid Bina Marga DPUPR Pera Kaltim Muhammad Muhran mengatakan, gagasan tersebut lahir dari evaluasi terhadap sejumlah insiden tabrakan yang pernah terjadi. Menurut dia, diperlukan sistem yang mampu memberikan informasi secara cepat, baik ketika terdapat potensi kecelakaan maupun saat insiden benar-benar terjadi. “Kami mencoba membuat suatu inovasi untuk memberikan mitigasi ketika terjadi tabrakan,” ujar Muhran, Rabu (12/8).
PERISAI-MU nantinya mengintegrasikan sejumlah perangkat. Mulai closed circuit television (CCTV), sensor laser, anemometer, data logger, lampu peringatan, rambu, hingga sirene. Seluruh perangkat tersebut akan terkoneksi dengan sistem pemantauan di command center.
Baca Juga: APBD Paser 2026 Berubah, DPRD Soroti Pendidikan, Kesehatan hingga Kondisi Kas Daerah
Cara kerjanya cukup sederhana, tetapi diharapkan mampu menjadi lapis pengamanan tambahan. Ketika kapal memasuki area yang terjangkau sensor, sistem akan membaca pergerakannya. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui tingkat risiko terhadap jembatan.
Hasil analisis diterjemahkan menjadi sinyal peringatan bagi pengguna jalur pelayaran. Lampu sinyal navigasi akan memberikan tanda hijau, kuning, atau merah. Sirene juga disiapkan sebagai peringatan suara. “Dengan sistem tersebut kapal dapat mengetahui kondisi di sekitar jembatan dan melakukan tindakan yang diperlukan berdasarkan tingkat risiko yang terdeteksi,” jelasnya.
Warna hijau menandakan kondisi aman bagi kapal untuk melintas. Sementara kuning menjadi tanda agar kapal mulai bermanuver atau mengurangi kecepatan. Adapun merah menunjukkan tingkat risiko tabrakan tinggi. “Harapannya, dengan jarak tertentu kapal bisa mengurangi kecepatan atau manuver, sehingga kecelakaan bisa dihindari,” tambahnya.
Baca Juga: Jangan Asal Parkir di Samarinda! Mulai Diderek, Dendanya Rp3 Juta
Namun, fungsi PERISAI-MU tidak berhenti pada upaya mencegah tabrakan. Sistem tersebut juga disiapkan untuk mempercepat respons apabila kecelakaan benar-benar terjadi. Melalui command center, petugas diharapkan dapat mengetahui kapal yang terlibat, waktu kejadian, hingga kondisi di lapangan. Informasi tersebut menjadi modal penting mempercepat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Dengan PERISAI-MU, kami berharap menjadi pihak pertama yang mengetahui kondisi jembatan dan dapat segera mengambil langkah mitigasi maupun menyiapkan kebutuhan penanganan hukum,” katanya.
Untuk merealisasikan sistem tersebut, DPUPR Pera Kaltim kini tengah mengusulkan anggaran pemasangan sejumlah perangkat, termasuk sensor, anemometer, dan sirene melalui perubahan APBD 2026. Sementara untuk kebutuhan pemantauan visual, DPUPR Pera Kaltim menjalin kerja sama dengan Perusda Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS) dalam pemasangan CCTV.
Baca Juga: Terancam Jadi SILPA! Pemprov Kaltim Peringatkan Daerah yang Belum Melengkapi Dokumen Bankeu
“Pada jangka pendek akan dimulai dengan pemasangan CCTV,” jelasnya. Langkah tersebut menjadi tahap awal sebelum seluruh perangkat PERISAI-MU terintegrasi secara penuh. Dengan begitu, pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di sekitar Jembatan Mahulu dapat dilakukan secara lebih optimal.
PERISAI-MU merupakan bagian dari proyek perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan XIII Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kaltim 2026. Ke depan, inovasi tersebut tidak hanya diharapkan menjadi solusi bagi Jembatan Mahulu. DPUPR Pera Kaltim ingin PERISAI-MU berkembang menjadi model pengamanan yang dapat diterapkan pada aset jembatan lain yang memiliki risiko serupa. “PERISAI-MU masih akan dikembangkan dengan fitur tambahan sehingga membawa manfaat bagi pengamanan infrastruktur jembatan di Kaltim,” tuntasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A