Napak Tilas Kemerdekaan di Samarinda, Menyusuri 5 Jejak Pertempuran dan Pengibaran Merah Putih

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:44 WIB
NAPAK TILAS: Peserta Samarinda Walking Tour bersama Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) berfoto di Landschap Hospitaal atau rumah sakit umum milik pemerintah Belanda yang sekarang disebut Rumah Sakit Islam.
NAPAK TILAS: Peserta Samarinda Walking Tour bersama Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) berfoto di Landschap Hospitaal atau rumah sakit umum milik pemerintah Belanda yang sekarang disebut Rumah Sakit Islam.

SAMARINDA – Sejumlah lokasi yang menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Samarinda kembali ditelusuri menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Komunitas Samarinda Walking Tour bersama Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) menggelar napak tilas lima jejak sejarah, Ahad (16/8).

Kegiatan edisi kelima Samarinda Walking Tour tersebut menyusuri empat lokasi yang menjadi medan pertempuran antara pejuang Republik Indonesia dan pasukan Belanda pada Januari hingga Februari 1947. Satu lokasi lainnya merupakan tempat pertama kali bendera Merah Putih dikibarkan di Samarinda setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Baca Juga: Pasukan 8, 17, dan 45 di Upacara Kemerdekaan Punya Arti Khusus, Ini Penjelasannya

Perjalanan sejarah dipandu storyteller sekaligus pengajar sejarah Muhammad Ilham Syahputra. Peserta juga membawa foto-foto tokoh dan peristiwa sejarah dalam ukuran besar sebagai alat peraga untuk memperkuat narasi di setiap lokasi.

Ilham mengatakan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Pasukan Belanda kembali datang dan berupaya menguasai sejumlah wilayah, termasuk Samarinda.

“Kemerdekaan Indonesia memang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, tetapi sebulan setelah itu pasukan Belanda kembali datang ke Indonesia, termasuk juga ke Samarinda,” ungkapnya.

Menyusuri Jejak Pertempuran

Napak tilas dimulai dari Tugu Palagan Teluk Lerong di Jalan Martadinata. Lokasi tersebut menjadi saksi serangan laskar gerilyawan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) terhadap perumahan pejabat pemerintahan Belanda pada 15 Januari 1947.

Rombongan kemudian menuju Tugu Palagan di Jalan Pangeran Suryanata. Di lokasi tersebut terjadi kontak senjata antara pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) Belanda dan pejuang Merah Putih pada 28 Februari 1947.

Perjalanan dilanjutkan ke Tugu Palagan di Jalan Damanhuri II. Kawasan tersebut menjadi salah satu medan pertempuran antara pejuang dan pasukan Belanda pada 7 Januari 1947.

Titik pertempuran lainnya berada di kawasan Sambutan. Secara kronologis, lokasi tersebut merupakan titik pertama dalam rangkaian sejarah yang ditelusuri. Namun, dalam rute perjalanan ditempatkan sebagai titik keempat dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas dan geografis.

“Kami mempertimbangkan aspek lalu lintas dan geografis sehingga lokasi pertama Tugu Palagan yaitu di Sambutan, justru menjadi titik keempat dalam rute,” ujar Ilham.

Tempat Pertama Merah Putih Berkibar

Rute napak tilas kemudian berakhir di Rumah Sakit Islam Samarinda. Bangunan tersebut sebelumnya merupakan Landschap Hospitaal, rumah sakit umum milik pemerintah Belanda.

Lokasi itu memiliki catatan penting dalam sejarah kemerdekaan Samarinda. Pada 20 September 1945, bendera Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan di Samarinda setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Sejarawan Muhammad Sarip yang turut dalam rombongan mengatakan, peristiwa tersebut memiliki arti penting bagi sejarah kemerdekaan di Kalimantan Timur.

“Pengibaran bendera Merah Putih di Landschap Hospitaal Samarinda merupakan yang pertama, tidak hanya di Samarinda tetapi juga di level Kaltim, mendahului Balikpapan, Sanga Sanga, dan kota lainnya,” ujarnya.

Bagi peserta, napak tilas tersebut menjadi cara berbeda untuk mengenal sejarah Kota Tepian. Paramitha Putri mengaku antusias karena kegiatan itu memperkenalkannya pada sejumlah lokasi bersejarah yang selama ini kurang diketahuinya.

“Sebagai warga Samarinda yang jarang menyusuri kota, saya senang banget ada kegiatan seperti ini karena saya bisa mengetahui adanya lokasi-lokasi penting dan bersejarah di kota sendiri,” tuturnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
HUT ke-81 RI Samarinda Walking Tour napak tilas kemerdekaan jejak perjuangan Samarinda Sejarah Samarinda