Tergempur AI, Merdeka Belajar Jangan Kehilangan Makna 

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:47 WIB
REFLEKSI KEMERDEKAAN: Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Pengabdian PC ABKIN Kota Samarinda serta Pengurus MGBK Kota Samarinda, Dyah Ayu Wijaya. (IST) 
REFLEKSI KEMERDEKAAN: Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Pengabdian PC ABKIN Kota Samarinda serta Pengurus MGBK Kota Samarinda, Dyah Ayu Wijaya. (IST) 

SAMARINDA — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membuat proses belajar semakin mudah. Tugas dapat diselesaikan dalam hitungan detik, rangkuman tersedia seketika, bahkan tulisan bisa dibuat hanya dengan beberapa perintah. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang perlu dijaga yakni jangan sampai teknologi mengambil alih proses berpikir peserta didik.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Pengabdian PC ABKIN Kota Samarinda, Dyah Ayu Wijaya. Dalam refleksinya menyambut Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Dyah mengingatkan bahwa semangat Merdeka Belajar tidak berhenti pada kebebasan menggunakan teknologi.

Menurut dia, kemerdekaan dalam pendidikan seharusnya melahirkan peserta didik yang mampu berpikir mandiri, berani mengeksplorasi, sekaligus menciptakan gagasan baru.

“Esensi dari Merdeka Belajar bukanlah sekadar memberikan kebebasan kepada peserta didik, melainkan membangun manusia yang memiliki kemandirian berpikir, keberanian bereksplorasi, dan kemampuan menghasilkan gagasan-gagasan baru,” jelas Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 8 Samarinda tersebut. 

Perkembangan AI, menurut Dyah, memang merupakan kemajuan yang patut disyukuri. Teknologi dapat membantu peserta didik menyelesaikan berbagai kebutuhan belajar secara lebih cepat. Tetapi, kemudahan itu juga berpotensi membuat siswa terbiasa mengejar hasil tanpa menjalani proses.

Ia menilai, belajar sejatinya bukan sekadar mendapatkan jawaban. Ada proses panjang di baliknya, mulai dari melatih logika, membangun rasa ingin tahu, hingga mengasah daya juang.

“Padahal, belajar bukan semata-mata tentang memperoleh jawaban. Belajar adalah proses melatih logika, mengasah rasa ingin tahu, membangun daya juang, dan menemukan makna di balik setiap persoalan,” terangnya.

Di titik ini, peran pendidik menjadi semakin penting. Dyah tidak melihat AI sebagai sesuatu yang harus dijauhi dari ruang kelas. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran selama digunakan dengan tepat.

“Kehadiran AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, apalagi dimusuhi. AI adalah teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia,” imbuhnya. 

Yang perlu diperhatikan, lanjutnya, adalah cara manusia menggunakan teknologi tersebut. AI dapat membantu siswa menemukan informasi dan menyempurnakan gagasan. Namun, ketika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, teknologi justru berpotensi mengurangi kemampuan siswa untuk bernalar dan berkreasi.

Karena itu, Dyah mendorong perubahan cara pendidikan memandang keberhasilan belajar. Peserta didik tidak cukup hanya diminta menghasilkan sebuah karya. Mereka juga perlu mampu menjelaskan dari mana gagasan tersebut berasal, bagaimana informasi diperoleh dan diverifikasi, serta sejauh mana AI digunakan dalam prosesnya.

“Dengan demikian, AI menjadi mitra dalam berkarya, bukan pengambil alih daya pikir manusia,” terangnya. 

Bagi Dyah, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang menempatkan proses sebagai bagian penting dari perjalanan pendidikan. Menghargai proses, kata dia, bukan berarti mengesampingkan hasil akhir.

“Dalam konsep Merdeka Belajar, proses dan hasil adalah dua hal yang saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Proses yang baik akan menjadi jalan untuk mencapai hasil yang baik, sementara hasil menjadi cerminan dari proses belajar yang telah dilalui,” paparnya.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi berkembang semakin cepat. Siswa memiliki akses terhadap berbagai sumber pengetahuan, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi, mempertanyakan kebenaran, dan mengolahnya menjadi gagasan sendiri.

Teknologi, menurut Dyah, semestinya memperluas ruang kreativitas dan inovasi. Bukan menjadi jalan pintas yang membuat siswa melewatkan proses belajar.

Sebab, kemajuan pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Kualitas manusia yang berada di balik teknologi tetap menjadi penentu.

“Bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari kualitas manusia yang menggunakannya,” sebutnya. 

Momentum kemerdekaan pun menjadi pengingat bahwa kebebasan dalam pendidikan harus tetap berujung pada kemerdekaan berpikir. Jangan sampai kemudahan AI justru membuat generasi muda kehilangan kemauan untuk menganalisis, mencoba, dan menciptakan sesuatu dengan kemampuan sendiri.

“Merdeka Belajar di era AI adalah keberanian untuk tetap berpikir, terus berkarya, dan menjadikan teknologi sebagai jalan lahirnya inovasi, bukan sebagai jalan pintas yang mematikan daya cipta,” kata Dyah.

“Karena proses yang hebat, didukung dengan ekosistem digital yang tepat, akan melahirkan generasi cerdas yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
PC ABKIN Kota Samarinda Dyah Ayu Wijaya Refleksi HUT Ke-81 RI Dilema AI merdeka belajar