SAMARINDA- Musim kemarau di Samarinda diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Minimnya curah hujan membuat potensi hujan di wilayah Samarinda dan sekitarnya masih rendah, sementara suhu udara mulai berpotensi menyentuh 35 derajat Celsius. Kondisi tersebut juga meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan dan kebakaran lahan.
Forecaster BMKG Samarinda Fiona Alya Hanifah mengatakan, prakiraan cuaca pada dasarian kedua dan ketiga Agustus masih menunjukkan curah hujan dalam kategori sangat rendah. Curah hujan diperkirakan berada di bawah 30 milimeter dalam periode 10 hari, sedangkan secara bulanan Agustus juga masuk kategori curah hujan rendah.
“Untuk prakiraan cuaca bulan ini dasarian dua dan tiga masih dalam kategori sangat rendah, yaitu curah hujannya di bawah 30 milimeter dalam satu dasarian,” ujarnya, Selasa (18/8).
Dia menjelaskan, pada kondisi tersebut bukan berarti hujan sama sekali tidak mungkin terjadi selama periode Agustus-September. Namun, jika hujan turun, intensitasnya diperkirakan cenderung ringan sehingga belum banyak mengubah kondisi musim kering. “Kalau untuk hujan mungkin saja terjadi, tapi untuk intensitasnya, curah hujannya ringan,” jelasnya.
Dia menerangkan, periode kemarau di Samarinda diperkirakan berlangsung sekitar sembilan dasarian atau tiga bulan sejak dimulai pada akhir Juni. Dengan demikian, kondisi kering berpotensi bertahan hingga September bahkan memasuki Oktober. “Kemungkinan berlangsung sampai sembilan dasarian atau sekitar tiga bulan, berarti September atau Oktober itu berakhir musim kemarau,” tegasnya.
Dia menambahkan, pihaknya masih memantau karakter kemarau tahun ini untuk menentukan apakah menjadi salah satu periode terkering. Meski demikian, BMKG memprediksi pola kemarau tahun ini memiliki kemiripan dengan kondisi yang terjadi pada 2023 dan 1997. “BMKG memprediksi kalau musim kemarau ini akan menyerupai seperti tahun 2023 dan 1997,” tambahnya.
Menurut Fiona, suhu maksimum Samarinda pada bulan sebelumnya masih sekitar 34,1 derajat Celsius, tetapi bulan ini berpotensi menyentuh 35 derajat. Kenaikan suhu sangat bergantung pada tutupan awan dan tingkat kelembapan udara. “Itu tergantung seberapa banyak penutupan awannya, terus juga seberapa kering kelembapan udara,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani