Dua SMP Rawan Bencana Belum Direvitalisasi, Pemkot Prioritaskan Penanganan Pendukung

Denny Saputra • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:36 WIB
TUNGGU ANGGARAN: Revitalisasi SMP 24 Samarinda Ulu masih menunggu kesiapan anggaran dan tengah diusulkan pada 2027 mendatang.
TUNGGU ANGGARAN: Revitalisasi SMP 24 Samarinda Ulu masih menunggu kesiapan anggaran dan tengah diusulkan pada 2027 mendatang.

SAMARINDA- Dua sekolah di Samarinda yang berada di kawasan rawan bencana belum dapat menjalani revitalisasi secara menyeluruh. Pemerintah Kota Samarinda memilih menangani titik paling mendesak lebih dulu, seperti membangun turap di belakang SMP 27 Samarinda Utara yang rawan longsor dan membenahi drainase di SMP 24 Samarinda Ulu yang kerap terdampak banjir. Rencana revitalisasi besar kedua sekolah tersebut disiapkan secara bertahap mulai 2027.

Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda Wahiduddin mengatakan, penanganan sekolah rawan bencana harus berdasarkan kajian menyeluruh agar pembangunan tidak kembali rusak akibat kondisi lingkungan. Pemkot juga melibatkan ahli kebencanaan untuk menentukan penanganan yang paling tepat.

“Tidak serta-merta kemudian semua harus dirubah. Kalau kajiannya tidak komprehensif, kita malah membangun sesuatu yang kemudian hancur kembali,” ujarnya, Senin (17/8).

Dia menjelaskan SMP 27 menjadi salah satu sekolah yang lebih dulu ditangani karena berada di kawasan rawan longsor. Pembangunan turap di bagian belakang sekolah menjadi langkah awal sebelum penanganan dilanjutkan ke bagian bawah. “Dimulai dari atas dulu, kalau untuk SMP 27 nanti di belakang itu diturap dulu dan seterusnya sampai di bawah dibangun yang jauh lebih bagus,” jelasnya.

Sedangkan, SMP 24 memiliki persoalan berbeda karena berada di kawasan rendah dan rawan banjir. Wahiduddin menerangkan, Pemkot telah mengalokasikan penanganan untuk 2027, namun pembangunan dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran daerah.

“Untuk SMP 24 memang sudah diusulkan anggar untuk 2027. Kami coba bagian-bagian yang paling prioritas,” terangnya.

Dia menyampaikan, kondisi SMP 24 cukup sulit ditangani hanya dengan pembenahan drainase karena sekolah dan akses menuju kawasan tersebut sama-sama terdampak banjir. Salah satu solusi jangka panjang yang dikaji adalah membangun sekolah dengan konsep panggung menggunakan konstruksi beton.

“Di SMP 24 itu tidak hanya sekolahnya yang terdampak, tapi aksesnya juga. Solusinya adalah sekolah panggung, beton yang bagus dan kuat,” ungkapnya.
Menurut dia, persoalan serupa juga ditemukan di sekolah lain, termasuk SMP 15 di Loa Janan Ilir yang berada di kawasan dengan risiko banjir tinggi. Pemkot juga mengkaji opsi pemindahan sekolah yang berada di lokasi sangat rawan ke lahan yang lebih tinggi.

“Kami sudah sampaikan secara komprehensif beberapa sekolah yang memang rawan bencana, apakah banjir, longsor dan sebagainya, beserta penanganannya,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
Wahiduddin sekolah rawan bencana SMP 24 dan SMP 27 Disdikbud Samarinda revitalisasi sekolah