KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kobaran api di lahan terbuka Samarinda tak selalu mudah dijangkau. Medan berupa hutan dan semak tinggi, ditambah keterbatasan sumber air, membuat petugas harus menarik selang pemadam hingga puluhan rol untuk mencapai titik api.
Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda per 18 Agustus 2026, tercatat 61 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas lahan terbakar mencapai 83,81 hektare.
Kecamatan Palaran menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 19 kali. Disusul Samarinda Ulu 13 kali, Samarinda Utara dan Sambutan masing-masing sembilan kali, Sungai Kunjang dan Sungai Pinang masing-masing empat kali, Loa Janan Ilir dua kali, serta Samarinda Kota satu kali. Sementara Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang tercatat nihil kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, hingga saat ini kejadian karhutla masih lebih banyak dibandingkan tahun ini. Namun, kondisi kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September tetap perlu diwaspadai. "Untuk kejadian karhutla masih banyak tahun kemarin. Tahun lalu itu sekali kejadian bisa empat titik karhutla. Tapi kalau prediksi BMKG sampai September, itu harus kita waspadai terus," ujar Suwarso.
Lokasi karhutla di Samarinda cukup beragam. Beberapa di antaranya terjadi di area perusahaan, seperti di Kecamatan Palaran. Dalam dua kejadian, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai sekitar 28 hektare. Kondisi medan yang sulit dijangkau turut membuat proses pemadaman lebih menantang. "Dugaannya sengaja dibakar. Di beberapa titik ada juga yang tidak sengaja, seperti di Bukit Pinang. Ada yang mancing di dekat danau, akibat rokok. Memang kecil kebakarannya, paling 10 kali 20 meter, tapi kalau tidak cepat ditangani kan melebar," tegasnya.
Ia menyebut, sebagian besar karhutla dipicu faktor manusia. Karena itu, kecepatan penanganan menjadi penting untuk mencegah api meluas, terutama di wilayah yang berdekatan dengan permukiman.
Selain medan, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala petugas. Dalam kondisi tertentu, selang pemadam harus ditarik hingga 25 rol untuk mencapai titik api. Dengan panjang satu rol sekitar 60 meter, jarak yang harus dijangkau mencapai sekitar 1,5 kilometer.
"Medannya susah. Hutan, rumput tinggi, kita harus menerobos. Kadang-kadang menuju titik kebakaran bisa salah lewat karena tidak kelihatan di depan. Rumputnya tinggi, sehingga akhirnya menambah sambungan selang," katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan sumber air, petugas memanfaatkan kolam penampung air portabel yang ditempatkan lebih dekat dengan lokasi kebakaran. Air kemudian disuplai secara bertahap hingga mendekati titik api.
Suwarso mengatakan, penanganan karhutla juga terbantu melalui kerja sama lintas sektor. BPBD Samarinda berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), relawan, BPBD Provinsi Kaltim, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga Perumdam Tirta Kencana.
Sejumlah perusahaan di Kecamatan Palaran juga turut membantu dengan menyediakan mobil tangki untuk menyuplai air. Kolaborasi tersebut dinilai membuat proses pemadaman lebih cepat sehingga api dapat dicegah agar tidak merembet ke permukiman.
"Ini menjadi lebih ringan, pemadamannya menjadi lebih cepat. Dengan demikian, daerah-daerah yang dekat permukiman bisa kita cegah kebakaran rumah atau pemukimannya," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani