Program PKM BIMA 2026 UMKT Perkuat Keterampilan Kader Dasawisma, Pantau Kesehatan Berbasis Digital

Akbar Sopianto • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:43 WIB
Tim dosen dari UMKT bersama kader dasawisma dan masyarakat Desa Loa Lepu, Kukar dalam rangkaian program PKM BIMA 2026 KB-GLOWING. (FOTO AKBAR/KP)
Tim dosen dari UMKT bersama kader dasawisma dan masyarakat Desa Loa Lepu, Kukar dalam rangkaian program PKM BIMA 2026 KB-GLOWING. (FOTO AKBAR/KP)

KALTIMPOST.ID-Pemantauan kesehatan keluarga di Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital.

Program KB-GLOWING membekali kader Dasawisma Anggur dengan keterampilan melakukan pemeriksaan, mengenali risiko kesehatan, mencatat data, hingga meneruskan temuan kepada bidan atau Polindes.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) BIMA 2026 tersebut dilaksanakan tim Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Tim diketuai Dr Pipit Feriani, S Kep, Ns, MARS dari Program Studi Keperawatan, bersama M Bachtiar Safrudin dari Program Studi Profesi Ners dan Hamada Zein dari Program Studi Bisnis Digital.

Baca Juga: Merdeka Sehat Fest 2026 di Balikpapan, RSP Panorama Buka Layanan KB IUD dan Implan Gratis

Pipit mengatakan, KB-GLOWING tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki pencatatan kesehatan keluarga, tetapi juga meningkatkan kemampuan kader mendeteksi risiko sejak dini.

“KB-GLOWING kami hadirkan untuk memperkuat kapasitas kader Dasawisma, bukan hanya dalam pencatatan data kesehatan, tetapi juga dalam mengenali risiko dan memastikan informasi tersebut dapat segera diteruskan untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Program ini berangkat dari kondisi pencatatan dan pelaporan kesehatan keluarga yang sebelumnya masih dilakukan secara manual dengan waktu pemrosesan sekitar 3–7 hari.

Dasawisma Anggur membina sekitar 540 keluarga dengan 22 kasus stunting aktif pada kondisi awal. Keterampilan antropometri kader juga belum seragam dan tata kelola data masih perlu diperkuat.

Kader kemudian mendapatkan pelatihan antropometri, skrining hemoglobin, edukasi keluarga berencana dan konsep “4 Terlalu”, pencegahan anemia dan stunting, komunikasi keluarga, pencatatan digital, hingga penggunaan sistem peringatan risiko kesehatan.

Antusiasme terlihat dari jumlah peserta. Dari target 25 kader inti, pelatihan diikuti 36 kader atau 144 persen dari target. Evaluasi terhadap 33 kader menghasilkan rata-rata skor pengetahuan 19,18 dari 20 atau 95,9 persen.

Baca Juga: Pergi Beli Gorengan, Lansia di Balikpapan Pulang Mendapati Rumah dan Lima Kamar Indekos Terbakar

Sebanyak 35 dari 36 kader atau 97,2 persen juga dinilai terampil melakukan skrining hemoglobin. Proporsi yang sama tercatat dalam keterampilan pengukuran antropometri.

Program turut menghasilkan aplikasi dan dashboard KB-GLOWING, standar operasional prosedur (SOP), panduan, media edukasi KB, anemia dan stunting, instrumen evaluasi, serta perangkat antropometri dan skrining.

Tahap berikutnya diarahkan pada penggunaan aplikasi secara rutin, audit kualitas data, serta penguatan koordinasi kader dengan bidan atau Polindes.

Keberlanjutan pengelolaan sistem oleh kader lokal juga menjadi perhatian agar informasi risiko kesehatan dapat lebih cepat ditindaklanjuti menjadi edukasi maupun pelayanan bagi keluarga yang membutuhkan. (pms/as/rd)

Editor : Romdani.
Cek Kesehatan Gratis (CKG) ibu kota nusantara Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur UMKT Samarinda Wali Kota Samarinda Andi Harun