KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kasus 12 pelajar SMP di Samarinda Seberang yang terindikasi narkotika pada 31 Juli mendorong Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Samarinda memperkuat pencegahan di lingkungan sekolah. Salah satunya dengan kembali mendorong penerapan Integrasi Kurikulum Antinarkotika (IKAN) di Kota Tepian.
Kasubag Umum BNNK Samarinda Firdaus Christyoadi mengatakan, program IKAN telah diupayakan selama dua tahun terakhir, namun belum terealisasi. Kini, BNNK kembali menggandeng DPRD Samarinda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta DP2PA agar program tersebut dapat segera diterapkan.
"Kami mengusulkan agar program IKAN ini bisa berjalan di Kota Samarinda. Ini sebenarnya sudah kami upayakan dua tahun, namun masih gagal. Kami coba lagi bersama DPRD Kota Samarinda supaya lebih kuat dan bisa segera berjalan," ujarnya, Jumat (21/8).
Menurut Firdaus, Komisi IV DPRD Samarinda telah memberikan dukungan dan menjadikan penerapan IKAN sebagai salah satu prioritas. Bahkan, DPRD mendorong studi tiru ke Bangka Belitung untuk melihat penerapan program tersebut.
Selain penguatan kurikulum, BNNK Samarinda juga mendorong deteksi dini terhadap pelajar. Selama ini, pemeriksaan narkotika umumnya dilakukan saat siswa baru masuk sekolah sebagai salah satu persyaratan administrasi di sejumlah sekolah.
BNNK menilai pemeriksaan perlu dilakukan secara berkala melalui uji petik saat jam pelajaran. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat pengawasan karena pemeriksaan dilakukan secara tidak terjadwal.
"Kalau hanya di awal, mereka mungkin sudah bisa mempersiapkan. Bagaimana kalau kita uji petik pada jam-jam pelajaran dan dilakukan pemeriksaan? Itu untuk menguatkan bahwa mereka benar-benar bersih dari narkoba," tegasnya.
Sementara itu, 12 siswa yang terindikasi narkotika telah menjalani asesmen BNNK Samarinda. Satu siswa direkomendasikan menjalani rehabilitasi rawat inap, sementara 11 lainnya mendapat rekomendasi rehabilitasi rawat jalan di BNNK Samarinda.
"Semua 12 siswa sudah kita asesmen. Satu lagi sedang kita upayakan karena kondisinya cukup berat. Kita tetap berupaya membantu melalui program rehabilitasi," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani