Cuaca Panas, Diskes Samarinda Ingatkan Warga Waspadai Heat Stroke

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:08 WIB
Kepala Diskes Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih. (HAFIZ/KP)

 
Kepala Diskes Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih. (HAFIZ/KP)  

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Cuaca panas yang berlangsung cukup panjang di Samarinda membuat masyarakat diminta tidak lengah menjaga kondisi tubuh. Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Samarinda mengingatkan risiko heat stroke atau sengatan panas, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Baca Juga: Karhutla Samarinda Tembus 77 Kejadian, BPBD Menduga Ada Unsur Kesengajaan

Kepala Diskes Kota Samarinda dr Ismed Kusasih mengatakan, perlindungan dari paparan panas menjadi salah satu hal utama yang perlu diperhatikan. Masyarakat dianjurkan menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti pakaian yang melindungi tubuh serta mengurangi aktivitas di bawah terik matahari.

"Yang paling penting adalah menghindari heat stroke (sengatan panas). Kita harus banyak minum, menggunakan APD dan menyesuaikan dengan keadaan, jangan terlalu terpapar panas," ujarnya.

Baca Juga: El Nino Mengintai hingga Akhir Tahun, Samarinda Siapkan Empat Level Status Mitigasi

Menurut dr Ismed, heat stroke berbeda dengan penyakit stroke. Sengatan panas dapat terjadi ketika tubuh mengalami paparan panas berlebihan hingga menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi darah dan penurunan kesadaran.

Karena itu, masyarakat diminta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi. "Yang paling penting sebenarnya jangan sampai terjadi dehidrasi. Kalau terjadi dehidrasi, menghindarinya dengan rehidrasi. Jadi harus cukup minum," jelasnya.

Baca Juga: 297 Guru Kutim Lulus S2, Bersiap Kembali Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus

Meski cuaca panas dan kasus karhutla meningkat, Diskes Samarinda belum menemukan peningkatan signifikan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dr Ismed menyebut, ISPA merupakan penyakit yang dapat terjadi sepanjang tahun dan hingga kini angkanya masih dalam kondisi normal.

"Kalau ISPA itu berlangsung sepanjang tahun. Mau cuaca panas atau tidak memang menjadi penyakit yang dominan. Sampai sekarang tidak ada peningkatan yang luar biasa," katanya.

Dr Ismed menambahkan, heat stroke perlu lebih diwaspadai ketika tubuh terpapar suhu panas ekstrem. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang pingsan, mengalami gangguan sirkulasi darah hingga penurunan kesadaran.

Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, tidak memaksakan diri berada di bawah terik matahari dalam waktu lama serta memastikan kebutuhan air minum tetap tercukupi. (*)

Editor : Sukri Sikki
Kota Samarinda kemarau ismed kusasih dinas kesehatan