SAMARINDA- Pemkot Samarinda mulai menyiapkan langkah lanjutan menghadapi kondisi kekeringan yang kian berdampak terhadap masyarakat. Selain menaikkan status kebencanaan menjadi tanggap darurat, pemerintah kota juga menyiapkan anggaran tambahan untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, peningkatan status dilakukan agar respons pemerintah terhadap kondisi darurat bisa lebih cepat. Termasuk dengan menyiapkan Belanja Tidak Terduga (BTT) yang nantinya dikelola organisasi perangkat daerah (OPD) terkait sesuai kebutuhan.
“Level kesiagaan kita naikkan supaya respons kita terhadap keadaan darurat itu juga meningkat. Kita menyediakan anggaran untuk kondisi kedaruratan itu, BTT,” ujarnya, Minggu (30/8).
Besaran anggaran tersebut, lanjut dia, masih dalam tahap finalisasi. Pemkot terlebih dahulu menghitung kebutuhan penanganan di lapangan sebelum menentukan nilai BTT yang akan dikucurkan. “Sekitar satu-dua hari ini baru difinalkan, memakai alokasi anggaran BTT,” jelasnya.
Andi Harun juga mengimbau masyarakat tidak panik menyikapi kondisi kekeringan. Warga diminta menghemat penggunaan air bersih serta lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah, mengingat cuaca panas dan kering juga meningkatkan risiko kesehatan maupun karhutla. “Agar masyarakat tetap berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Samarinda menaikkan status dari siaga darurat bencana menjadi tanggap darurat bencana kekeringan. Keputusan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Samarinda Nomor 300.2/242/HK-KS/VIII/2026 tertanggal 26 Agustus 2026.
Status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026. Selama periode tersebut, pemerintah dapat mengoptimalkan BTT untuk kebutuhan penanganan kedaruratan.
Berdasarkan kaji cepat Pusdalops BPBD Samarinda per 24 Agustus, tercatat 90 titik kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 119,57 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan. (*)
Editor : Ismet Rifani