KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, selama dua hari, 5–6 September. Di tengah kondisi tersebut, kekeringan juga mulai mengancam lahan pertanian. Tanah pertanian warga terlihat pecah-pecah akibat kemarau panjang.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengatakan, Pemkot Samarinda akan mengupayakan suplai air untuk menjaga lahan pertanian. Salah satu opsi yang disiapkan yakni memompa air dari anak Sungai Karang Mumus untuk dialirkan ke saluran menuju area persawahan.
"Besok mudah-mudahan BPBD dan Distapangtani Samarinda bisa memberikan solusi. Salah satunya memompa air dari anak Sungai Karang Mumus supaya masuk ke saluran air yang ada di sini," ujarnya usai meninjau lokasi pascakebakaran, Senin (7/9).
Menurutnya, kondisi lahan yang mulai retak membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Air yang dialirkan juga tidak bisa langsung menyebar karena harus terlebih dahulu mengisi bagian tanah yang pecah.
"Bisa dilihat sendiri, tanah kebun dan persawahan kita di sini sudah pecah-pecah. Tentunya nanti memerlukan waktu untuk memompa dan mengisi air di sini karena tidak bisa langsung mengalir," jelasnya.
Saefuddin menyebut luas lahan pertanian di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 48 hektare. Ia berharap suplai air segera dilakukan agar tanaman tidak mengalami puso dan masih dapat dipanen. "Mudah-mudahan kalau nanti Distapangtani bisa menyuplai air ke persawahan ini, tidak puso dan masih bisa dipanen," katanya.
Selain menangani dampak kekeringan, Saefuddin mengapresiasi kerja bersama dalam penanganan karhutla di Betapus. Menurutnya, respons cepat BPBD, Disdamkarmat, relawan, Perumdam Tirta Kencana, PUPR, dan seluruh pihak terkait penting untuk mencegah api meluas ke permukiman.
"Kalau enggak gercep, ini memprihatinkan sampai nanti ke daerah atau tempat perkampungan warga. Maka dari itu, saya atas nama Pemerintah Kota Samarinda mengucapkan terima kasih," ungkapnya.
Di sisi lain, Saefuddin mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk untuk membuka atau membersihkan lahan milik sendiri. Cuaca panas dan angin kencang membuat api lebih mudah meluas dan sulit dikendalikan. "Kalau pembakaran secara luas enggak boleh. Makanya masyarakat tolong jangan bakar-bakar. Saat ini jangan membakar lahan, walaupun lahannya sendiri," tegasnya.
Ia mengingatkan, pembakaran lahan sendiri tetap berisiko meluas ke lingkungan sekitar jika tidak terkendali. Karena itu, masyarakat diminta bersama-sama mencegah pembakaran lahan, mulai dari tingkat RT hingga kecamatan.
"Harapan saya, tolong masyarakat ayo kita sama-sama menahan untuk bakar-bakar lahan. Jangan bakar-bakar karena cuaca kita sudah panas dan hujan juga belum ada titik-titik terang. Maka dari itu kita harus berhati-hati untuk tidak membakar lahan secara sembarangan," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani