Kemarau Samarinda Makin Panjang, Kadar Klorida Sungai Mahakam Naik, 5 IPA Masuk Kondisi Waspada

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 06:20 WIB
Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda menetapkan kondisi waspada menyusul peningkatan kadar klorida Sungai Mahakam. (Foto Kaltim Post)
Perumda Tirta Kencana menetapkan kondisi waspada menyusul peningkatan kadar klorida Sungai Mahakam. (Foto Kaltim Post)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Musim kemarau kembali memberi tekanan terhadap layanan air bersih di Kota Samarinda. Perumda Tirta Kencana kembali menetapkan kondisi waspada setelah kadar klorida pada sumber air baku Sungai Mahakam menunjukkan pergerakan yang perlu diantisipasi.

Kondisi tersebut disampaikan Perumda Tirta Kencana melalui informasi pelayanan air pada 7 September 2026. Dalam edaran itu disebutkan, kadar klorida Sungai Mahakam bergerak dari kondisi normal menuju kondisi waspada akibat kemarau dan fenomena El Niño. 

Kenaikan kadar klorida berkaitan dengan intrusi air laut yang masuk ke aliran Sungai Mahakam. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pengolahan air baku sekaligus jam produksi sejumlah instalasi pengolahan air (IPA).

Baca Juga: Kronologi Video CCTV 21 Detik Kepsek dan Guru SD Pekalongan, Terjadi di Langkap Kedungwuni

Lima IPA kini masuk dalam skema pengurangan jam operasional. Yakni IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Kalhol, dan IPA Sungai Kapih.

Perumda menyebut operasional IPA akan dikembalikan secara bertahap apabila kondisi sumber air baku membaik dan kadar klorida turun di bawah 250 ppm. 

Warga diminta kembali bersiap

Menghadapi kondisi tersebut, Perumda meminta pelanggan yang masih mendapatkan aliran air untuk menampung air secukupnya sebagai persediaan.

Penggunaan air juga diminta dihemat. Langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan air di tengah kondisi kemarau yang belum sepenuhnya berakhir.

Perumda juga kembali menyiagakan Terminal Umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan air. Tempat penampungan yang akan digunakan warga diminta terlebih dahulu dibersihkan dan dipastikan siap menampung air.

Untuk kebutuhan air dalam jumlah besar, pengisian melalui mobil tangki dilakukan secara terpusat berdasarkan arahan Satgas. 

Bukan kali pertama terjadi

Gangguan akibat kemarau dan intrusi air laut sebenarnya sudah muncul sejak akhir Agustus.

Pada 26 Agustus, Perumda sebelumnya mengeluarkan pemberitahuan pengurangan jam operasional di IPA Pulau Atas, Palaran, Kalhol, Sungai Kapih dan Selili. Saat itu, penyebabnya juga dikaitkan dengan peningkatan kadar klorida akibat intrusi air laut. 

Kondisi kemudian sempat membaik. Pada awal September, intrusi air laut yang sebelumnya berdampak terhadap lima IPA mulai mereda. Saat itu, IPA Palaran menjadi instalasi yang masih belum kembali beroperasi normal.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kewaspadaan kembali ditingkatkan.

Kemarau tekan sumber air

Tekanan terhadap sumber air baku tidak hanya terjadi karena intrusi air laut. Debit sejumlah sumber air juga mulai menyusut akibat musim kemarau.

Baca Juga: 27 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri Agustus 2026, Ini Daftar Lengkap Jabatan Barunya

Bendungan Lempake, misalnya, tercatat mengalami penurunan tampungan. Meski demikian, BWS Kalimantan IV masih menyatakan pasokan air baku Samarinda dalam kondisi terkendali dan pengeluaran air diatur secara terukur. 

Perumda sendiri sebelumnya menyebut lebih dari 80 persen kebutuhan air baku Samarinda berasal dari Sungai Mahakam. Sumber lainnya berasal dari Sungai Karang Mumus, Sungai Bengen dan Waduk Benanga. 

Karena itu, perubahan muka air sungai, pasang laut, serta kadar klorida menjadi faktor penting yang terus dipantau.

Perumda mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi mulai melakukan langkah antisipasi dengan menampung air secukupnya dan menghemat pemakaian selama kondisi waspada berlangsung.

Editor : Uways Alqadrie
intrusi air laut Samarinda Intrusi Air Laut Mahakam kemarau di Samarinda sampai kapan Perumda Tirta Kencana Samarinda pemkot samarinda