KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kenaikan intrusi air laut di aliran Sungai Mahakam kian mengkhawatirkan hingga memaksa Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda menaikkan status pengawasan dari siaga menjadi kondisi kritis. Tingginya kadar klorida atau keasinan pada air baku tersebut berdampak langsung pada pemangkasan jam operasional di sepuluh Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Berdasarkan pengujian kualitas air baku terbaru, parameter kadar klorida Sungai Mahakam telah menembus ambang batas aman pengolahan air bersih. Kondisi itu membuat sejumlah instalasi tidak dapat memproduksi air secara maksimal demi menjaga keamanan konsumsi masyarakat.
Baca Juga: Aryna Sabalenka Bidik Three-Peat, Tak Peduli Ranking Nomor Satu
Dilansir dari laman resmi Instagram Perumdam Tirta Kencana, pembatasan operasional diberlakukan secara serentak pada sepuluh unit pengolahan air minum. Fasilitas yang terdampak meliputi IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Kalhol, IPA Sungai Kapih, IPA Selili, IPA Samarinda Seberang, IPA Tirta Kencana, IPA Cendana, dan IPA Gunung Lipan.
Manajemen Perumda Tirta Kencana menegaskan bahwa jam kerja seluruh instalasi tersebut baru akan dipulihkan kembali setelah kadar klorida Sungai Mahakam turun ke ambang normal. Selama proses pembatasan ini, pasokan distribusi ke ribuan sambungan rumah tangga dipastikan mengalami penurunan debit hingga penghentian aliran berkala.
Warga yang wilayahnya masih mendapatkan aliran air diimbau untuk segera menampung pasokan secukupnya ke dalam tandon atau wadah penyimpanan tertutup. Pelanggan juga diminta ekstra bijak serta memperketat penghematan pemakaian air bersih sehari-hari.
Baca Juga: Indonesia Kirim 430 Atlet ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Guna mengantisipasi krisis air minum dan kebutuhan memasak, pengelola air minum daerah telah mengaktifkan titik-titik Terminal IPA darurat yang tersebar di berbagai wilayah. Fasilitas ini disiapkan di IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Makroman, IPA Sungai Kapih, IPA Samarinda Seberang, IPA Tirta Kencana, IPA Cendana, IPA Gunung Lipan, dan IPA Bengkuring.
Selain instalasi utama, titik distribusi air darurat juga dibuka di IPA Pampang dekat masjid setempat serta sarana sumur bor dalam. Lokasi sumur bor tersebut mencakup kawasan Pahlawan, Simpang Darjad, hingga area Bengkuring.
Masyarakat yang memiliki sumur bor mandiri turut didorong untuk mengaktifkan fasilitas penampungan bersama guna meringankan beban warga sekitar yang kekurangan air bersih. Langkah berbagi air antarwarga dinilai sangat penting di tengah masa pembatasan produksi ini.
Baca Juga: Hapkido Kaltim Terkendala Biaya, Kejurnas Lampung Disiapkan dengan Skenario Mandiri
Pengurus masjid, musala, tempat ibadah lain, serta kantor pemerintahan yang memiliki tandon penampungan besar juga diimbau membuka Terminal Umum. Fasilitas penampungan tersebut difungsikan khusus melayani kebutuhan darurat air minum dan memasak warga di lingkungan terdekat.
Untuk pengisian tandon Terminal Umum, pengurus rukun tetangga (RT) atau pihak kelurahan dapat mengajukan permintaan pasokan air tangki yang dikoordinasikan terpusat melalui Satuan Tugas (Satgas). Langkah ini dilakukan agar distribusi bantuan air berlangsung tertib dan merata.
Teknis pembagian air bersih di setiap titik Terminal Umum sepenuhnya diatur oleh lurah, pengurus RT, dan tokoh masyarakat setempat guna mencegah antrean yang tidak terkontrol. Warga diminta membawa jeriken atau galon pribadi secara tertib saat mengambil jatah air.
Perumda Tirta Kencana turut mengundang para pemilik armada truk tangki air swasta yang berkeinginan membantu warga untuk bergabung bersama Satgas penanganan darurat air. Kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan agar dampak intrusi air asin ini tidak melumpuhkan kebutuhan dasar masyarakat Samarinda.
Baca Juga: Resep Tongseng Kambing Kuah Santan, Gurih dan Kaya Rempah ala Rumahan
Masyarakat diimbau tetap menjaga kebersamaan, menghemat air secara maksimal, dan memanjatkan doa bersama agar hujan segera mengguyur hulu Mahakam sehingga intrusi air laut segera mereda. (*)
Editor : Dwi Restu A