Krisis Air Bersih Landa SRT 2 Palaran, Sekolah Ambil Langkah Darurat Pulangkan Siswa SMA

Eko Pralistio • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 06:01 WIB
Minimnya pasokan air baku akibat penurunan debit Sungai Mahakam memicu krisis air bersih yang melumpuhkan fasilitas sanitasi asrama, hingga pihak sekolah mengambil langkah darurat memulangkan sementara para siswa jenjang SMA. (EKO/KALTIM POST)
Minimnya pasokan air baku akibat penurunan debit Sungai Mahakam memicu krisis air bersih yang melumpuhkan fasilitas sanitasi asrama, hingga pihak sekolah mengambil langkah darurat memulangkan sementara para siswa jenjang SMA. (EKO/KALTIM POST)

SAMARINDA—Krisis air mulai mengganggu aktivitas belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Palaran, Samarinda. Keterbatasan pasokan air membuat pihak sekolah mengambil langkah untuk memulangkan sementara siswa jenjang SMA.

Kepala SRT 2 Palaran Samarinda Fahrijal mengatakan, persoalan kekurangan air sebenarnya sudah berlangsung sekitar sepekan. Namun, kondisi paling terasa terjadi dalam tiga hari terakhir karena pasokan air terus menurun. “Memang krisis airnya sekitar semingguan. Kalau kita lihat debit itu kurang, kurang terus. Nah, kendalanya yang terasa itu selama tiga hari ini,” kata Fahrijal, Jumat (11/9).

Berbagai upaya dilakukan sekolah untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satunya berkoordinasi dengan perusahaan daerah air minum (PDAM).  Pada hari pertama, sekolah mendapat bantuan pasokan sekitar 5.000 liter air. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan siswa yang tinggal di asrama.

“5.000 liter tidak akan cukup,” tegasnya. Sekolah kemudian kembali berkoordinasi untuk mendapatkan pasokan pada hari berikutnya. Namun, distribusi air tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan sekolah karena masyarakat lain juga membutuhkan pasokan.

Baca Juga: Air Mahakam Asin! IPA Sungai Kapih Samarinda Buka Terminal Air Gratis 24 Jam

“Putarannya itu agak lambat ya, karena memang bukan hanya kita yang perlu air, tapi masyarakat yang lain juga perlu air,” jelasnya. Untuk menyiasati kondisi tersebut, sekolah juga mencari pasokan secara mandiri. Beberapa siswa jenjang SD dan SMP disebut masih mendapatkan air melalui upaya masing-masing.

Sementara itu, siswa SMA dipulangkan sementara. Keputusan tersebut diambil lantaran kondisi air tidak memungkinkan untuk mendukung kebutuhan siswa di asrama. Fahrijal menyebut, keputusan itu juga mempertimbangkan kondisi siswa perempuan yang membutuhkan air untuk kebutuhan sanitasi, serta adanya sejumlah siswa yang sedang sakit. Terlebih, pada Sabtu dan Minggu tidak terdapat kegiatan pembelajaran.

“Kalau kita paksakan di sini kan kasihan juga. Kemudian ada beberapa anak yang juga sakit. Ya, dari SMA mengambil sikap, baiknya kita pulangkan saja karena air tidak ada,” ujarnya. Berbeda dengan jenjang SMA, siswa SD masih mengikuti kegiatan di sekolah. Pasokan air untuk mereka masih tersedia di sejumlah tandon. 

Baca Juga: Intrusi Air Laut Kian Kritis, 10 IPA di Samarinda Terdampak

Hingga Jumat pagi, sekolah masih mendapatkan suplai air berdasarkan koordinasi dengan pihak yang membantu penyediaan air. “Makanya sampai tadi pagi masih dapat, jadi kita tidak pulangkan,” katanya. Persoalan kebutuhan air menjadi tantangan tersendiri karena seluruh aktivitas siswa di asrama bergantung pada ketersediaan air. Fahrijal memperkirakan kebutuhan minimal mencapai 10 ribu liter air per jenjang setiap hari.

Di setiap asrama terdapat dua penampungan dengan kapasitas masing-masing sekitar 4.000 liter. Artinya, satu asrama memiliki kapasitas penampungan sekitar 8.000 liter. Namun, pasokan yang didatangkan sekolah sekitar 10 ribu liter untuk dua asrama, masing-masing 5.000 liter untuk asrama putra dan putri, bisa habis dalam sehari.“Lima ribu asrama putra, lima ribu asrama putri. Itu habis dalam satu hari,” ungkapnya.

Kebutuhan tersebut bukan hanya untuk mandi. Air juga digunakan siswa untuk mencuci pakaian, membersihkan diri, hingga kebutuhan sanitasi lainnya. Karena itu, menurut Fahrijal, 5.000 liter untuk satu asrama per hari justru sudah merupakan jumlah yang dihemat. Apalagi, jumlah siswa dalam satu jenjang mencapai sekitar 170 orang.

“170 itu kan kebutuhannya bukan hanya mandi. Dia cuci pakaian di situ, kemudian dia bersih-bersih diri, buang air di situ. Jadi saya pikir 5.000 satu hari, 5.000 satu asrama itu menurut saya kecil,” katanya. Jika dihitung untuk tiga jenjang pendidikan, kebutuhan air minimal diperkirakan mencapai 30 ribu liter setiap hari. Angka itu menjadi kebutuhan normal agar seluruh aktivitas siswa di lingkungan sekolah dan asrama dapat berjalan. “Tiga puluh ribu normalnya tiap hari,” pungkas Fahrijal. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
intrusi air laut sungai mahakam samarinda Dampak Kemarau Samarinda krisis air samarinda SRT 2 Palaran Samarinda