KALTIMPOST.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda terus memperluas langkah penanganan status tanggap darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kota Tepian.
Penanganan dampak kemarau panjang ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar warga serta penyelamatan lahan pertanian yang terancam gagal panen. Hal tersebut dipaparkan dalam rapat dengar pendapat antara BPBD Kota Samarinda bersama Komisi III DPRD Kota Samarinda, Selasa (15/9).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso menegaskan bahwa penanganan darurat kekeringan tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api di lapangan. "Penanganan tanggap darurat kekeringan ini tidak hanya sekadar menangani kebakarannya saja. Kita juga melakukan penanganan terhadap distribusi air bersih karena beberapa instalasi pengolahan air (IPA) Perumda Tirta Kencana belum berproduksi penuh 24 jam," ujarnya, Selasa (15/9).
Saat ini, tersisa dua fasilitas pengolahan air yang belum dapat beroperasi optimal selama 24 jam penuh, yakni IPA Bantuas dan IPA Palaran. Khusus di IPA Bantuas, kadar klorida air baku mencapai 335 ppm sehingga melebihi ambang batas kelayakan konsumsi sebesar 250 ppm akibat intrusi air laut yang terkurung. "Tapi ada kesepakatan dari Perumda Tirta Kencana untuk masyarakat tetap minta beroperasi, dan airnya hanya untuk kepentingan MCK (mandi, cuci, kakus)," katanya.
Baca Juga: Jangan Cuma Keruk Alam, DPRD Desak Korporasi Bantu Padamkan Api Karhutla Samarinda
Sementara itu di IPA Palaran, pemantauan kadar klorida Sungai Mahakam dilakukan petugas secara ketat setiap jam agar pompa penyedot dapat langsung diaktifkan begitu kadar salinitas menurun. Selain pasokan air bersih warga, ancaman serius juga membayangi sektor ketahanan pangan lokal. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Samarinda mencatat seluas 654 hektare lahan persawahan mengalami kekeringan ekstrem dan berisiko gagal tanam pada awal September ini.
Guna mengantisipasi kerugian petani, BPBD mengambil terobosan dengan menyedot air dari lubang bekas tambang (void) yang kualitasnya telah dipastikan aman oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). "Kita memanfaatkan void eks tambang yang sudah diuji kualitas airnya oleh teman-teman DLH untuk menyuplai beberapa sawah. Total sekitar 207 hektare sudah berhasil kita lakukan penyiraman," tuturnya.
Lahan persawahan yang berhasil diselamatkan itu tersebar di Makroman seluas 42 hektare, Serayu Tanah Merah, Betapus, Bukuan, hingga Bantuas. Di sisi lain, Suwarso menyebut kualitas udara di beberapa kecamatan seperti Samarinda Utara, Palaran, dan Sambutan sempat masuk kategori tidak sehat pada pagi hari akibat kabut asap karhutla.
Baca Juga: Intrusi Air Asin di Sungai Mahakam Melandai, Distribusi Air Bersih Samarinda Kembali Normal
Kendati demikian, indeks kualitas udara berangsur membaik ke level sedang pada siang hari sehingga aktivitas luar ruang tetap dapat berjalan aman dengan kewajiban mengenakan masker. Komisi III DPRD Samarinda juga mendorong penyediaan sumur artesis berkedalaman minimal 150 meter serta meminta keterlibatan CSR perusahaan swasta dalam memasok armada tangki air pemadam.
Terkait maraknya titik karhutla, aparat penegak hukum dari kepolisian telah melakukan tindakan tegas terhadap sejumlah oknum pembakar lahan. "Dengan kesengajaan membakar itu pasti akan mengganggu banyak orang, terutama kaitan kualitas udara, asap, anak-anak sekolah, hingga petugas yang berjibaku sampai tengah malam. Mudah-mudahan sanksi hukumnya sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki