KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kabut asap pekat menyelimuti Kota Samarinda sejak Rabu (16/9) pagi. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta diperparah cuaca berawan.
Kondisi itu membuat kualitas udara di ibu kota Kalimantan Timur merosot hingga masuk kategori sangat tidak sehat bagi pernapasan warga.
Berdasarkan pemantauan sensor partikulat udara halus (PM2.5) di Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, konsentrasi polutan tercatat mencapai 161,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 Wita. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 210,4 µg/m³ pada pukul 16.00 Wita.
Baca Juga: Neni Ingin Bus Sekolah Keliling Jemput Pelajar Bontang
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor menjelaskan, kondisi tersebut terjadi akibat asap karhutla yang tertahan di lapisan bawah atmosfer.
"Secara meteorologi, tutupan awan tebal membuat radiasi matahari tidak bisa masuk ke permukaan tanah. Asap dari karhutla yang biasanya terangkat naik ke atmosfer kini tertahan di bawah, sehingga kondisinya pekat seperti ini," ujarnya, Rabu (16/9).
Selain tutupan awan tebal, perubahan arah angin turut memicu pergerakan kabut asap ke wilayah perkotaan dan kawasan bandara.
"Arah angin juga berubah, dari yang biasanya bertiup dari selatan tenggara kini beralih dari arah utara barat laut. Asap karhutla akhirnya terdorong mengarah ke kawasan Bandara APT Pranoto dan Kota Samarinda," tambahnya.
Kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang (visibility) di kawasan Bandara APT Pranoto Samarinda. Jarak pandang merosot menjadi sekitar 1 hingga 2 kilometer dari kondisi normal sekitar 10 kilometer. BMKG menyebut jarak pandang di kawasan bandara bahkan sempat berada di kisaran 1.000 meter.
Kendati demikian, operasional penerbangan komersial saat itu masih berjalan tanpa pembatalan jadwal.
Baca Juga: PJJ Bontang Dimulai Hari Ini, Disdikbud Pantau Kondisi Udara hingga Sabtu
"Sampai sekarang penerbangan masih normal dan belum ada laporan gangguan operasional. Hanya saja jarak pandang memang menurun drastis menjadi kisaran satu sampai dua kilometer saja," jelasnya.
Mengenai potensi hujan, Riza menyebut hujan berintensitas sedang terpantau mengguyur Berau, Kutai Timur, sebagian Kutai Kartanegara, dan Mahakam Ulu. Sementara itu, Samarinda baru diguyur gerimis tipis di wilayah Tanah Merah, Samarinda Utara.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita infeksi saluran pernapasan, untuk membatasi kegiatan di luar ruangan serta menggunakan masker pelindung.
"Masyarakat diimbau selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi mobilitas yang tidak mendesak, karena kualitas udara kita saat ini sedang tidak baik-baik saja," pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi