Kualitas Udara Samarinda Membaik, Kemarau Masih Jadi Perhatian

Denny Saputra • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 19:49 WIB
WASPADAI: Kekeringan yang masih melanda Samarinda dan sekitarnya membuat sejumlah gangguan kesehatan turut mengintai warga seperti ISPA hingga diare. DENNY SAPUTRA/KP
WASPADAI: Kekeringan yang masih melanda Samarinda dan sekitarnya turut memengaruhi operasional sejumlah IPA. (DENNY SAPUTRA/KP)

SAMARINDA – Kualitas udara Samarinda menunjukkan perbaikan pada Jumat (18/9) sore. Indeks kualitas udara (AQI) pada pukul 15.00 Wita berada di sekitar angka 83 atau kategori sedang, turun dibandingkan sehari sebelumnya yang sempat mencapai 183 pada Kamis (17/9) pukul 18.00 Wita dengan PM2.5 sebagai polutan utama.

Meski kualitas udara membaik, penanganan dampak kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dilakukan Pemkot Samarinda melalui Satgas Penanggulangan Kekeringan dan Karhutla.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni penyaluran air bersih kepada warga terdampak kekeringan, termasuk wilayah yang terkena dampak penyesuaian operasional instalasi pengolahan air (IPA).

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, kemarau turut memengaruhi operasional sejumlah IPA. Selain persoalan intrusi air laut pada IPA yang sumber air bakunya terhubung dengan Sungai Mahakam, penurunan debit Waduk Benanga juga berdampak terhadap operasional IPA Gunung Lingai.

Di tengah kondisi tersebut, Pemkot Samarinda masih mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Tahap pertama OMC dijadwalkan berlangsung pada 15–19 September.

Baca Juga: Pemkot Samarinda Tetap Kebut Penataan Drainase dan Normalisasi Sungai

“Kami akan koordinasi lagi dengan BNPB, apakah akan diperpanjang? Akan bergantung rekomendasi pusat bersama pihak ketiga yang melakukan OMC, karena terkait pesawat,” jelas Andi Harun, Jumat (18/9).

Dia menerangkan, pelaksanaan OMC telah berjalan sejak 15 September. Namun, hasil penyemaian awan belum memberikan dampak hujan yang besar karena kondisi awan di Samarinda belum cukup mendukung.

“Operasi yang dilakukan sejak 15 September sudah berlangsung, hanya memang gumpalan awan belum terlalu besar sehingga dampak secara langsung berupa hujan belum bisa besar,” ujarnya.

Menurut Andi Harun, penyemaian garam dilakukan setiap hari selama jadwal awal OMC. Efektivitas operasi tersebut tetap bergantung pada ketersediaan dan kondisi awan di wilayah Samarinda.

“Sebagaimana kami sampaikan, upaya penanganan terus dilakukan berbagai instansi. Diharapkan hujan segera turun sehingga pasokan air bisa kembali normal,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
kemarau Samarinda kekeringan Samarinda kualitas udara Samarinda