SAMARINDA- Turap di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Samarinda Kota, tepatnya di kawasan pembangunan Teras Samarinda Segmen 1, mengalami longsor sejak September lalu.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV selaku pengelola kewenangan Sungai Mahakam kini melaporkan kondisi tersebut ke pemerintah pusat untuk mendapatkan kajian dan desain penanganan yang tepat.
Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, longsornya turap tidak bisa dilihat dari satu faktor. Sejumlah kondisi turut memengaruhi, mulai dari usia struktur yang telah berumur lebih dari 20 tahun, tekanan aktivitas di atas badan jalan hingga dinamika alur Sungai Mahakam.
“Memang banyak penyebab di situ. Pertama, umur infrastrukturnya sudah lama. Yang dulunya besi-besinya mungkin sudah keropos, betonnya juga begitu,” terangnya Minggu (20/9).
Dia menjelaskan, struktur turap juga bersinggungan langsung dengan kondisi alam yang memiliki energi besar. Lokasi tersebut berada di bagian luar tikungan Sungai Mahakam sehingga berpotensi mendapat tekanan arus dan gerusan yang lebih besar.
“Selain faktor struktur dan arus, kondisi Jalan Gajah Mada yang padat juga menjadi perhatian. Getaran kendaraan dalam jangka panjang dinilai dapat memberikan pengaruh terhadap struktur turap. Apalagi, di sekitar badan jalan telah ditemukan sejumlah rekahan,” jelasnya.
Andri juga menyebut aktivitas pembangunan di sekitar lokasi sebagai salah satu faktor yang perlu diperhitungkan. Penimbunan tanah di atas struktur dapat menambah beban dan memberikan tekanan ke arah samping. “Tanah itu akan menyebarkan gaya ke samping. Jadi kalau kita timbun di sini, bagian yang lain akan terdorong atau terdesak,” sebutnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan surutnya muka air Sungai Mahakam saat musim kemarau. Berkurangnya tekanan air dari sungai membuat kondisi keseimbangan terhadap struktur turap ikut berubah.
Untuk memastikan penyebab dan menentukan metode penanganan, BWS Kalimantan IV meminta bantuan Balai Teknik Sungai serta Balai Hidrolika dan Geoteknik Keairan (BHGK), Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kajian akan melihat kondisi arus, kemungkinan gerusan serta struktur dasar sungai.
“Kami sudah melaporkan dan meminta mereka datang mengecek langsung. Karena membangun infrastruktur itu susah dan mahal, data harus benar-benar diambil dengan baik,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani