SAMARINDA- Musim kemarau yang melanda Kalimantan Timur turut berdampak terhadap sektor pertanian. Keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi, terutama bagi petani padi di wilayah yang bergantung pada curah hujan.
Kepala Balai Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim Ahmad Subhan mengatakan, salah satu langkah yang dapat dilakukan petani adalah memilih varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kekeringan. Selain itu, penggunaan air untuk pertanian juga perlu diatur sesuai fase pertumbuhan tanaman.
“Harapan kita pertama, pertanaman terus dilaksanakan. Pilih varietas padi yang tahan terhadap kekeringan. Ada beberapa varietas yang bisa digunakan untuk itu,” ujarnya Senin (21/9).
Dia menyebut, tanaman padi tidak harus terus-menerus berada dalam kondisi tergenang. Kebutuhan air dapat disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan, mulai dari penanaman, fase vegetatif hingga menjelang pengisian malai padi. "Ada fasenya dan tidak sepenuhnya perlu air yang tergenang," sebutnya.
Dia menjelaskan, pada fase tertentu tanaman memang membutuhkan air lebih banyak. Namun, setelah melewati fase tersebut, pemberian air dapat dikurangi dan kembali ditingkatkan ketika tanaman memasuki masa bunting hingga pengisian malai.
Karena itu, keberadaan sumber air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian saat kemarau, sehingga data mengenai lokasi sumber air diperlukan agar pemerintah dapat menentukan bentuk intervensi, seperti pembangunan jaringan perpipaan maupun penyediaan sumber air alternatif.
“Semua wilayah harus diidentifikasi. Harapannya, tahun-tahun ke depan kalau terjadi kemarau tidak lagi menjadi masalah. Sumber air ada, irigasi ada, sumber air dalam juga ada,” jelasnya.
Dia berharap pendataan selama kemarau menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan infrastruktur pertanian. Dengan begitu, persoalan kekeringan yang muncul tahun ini tidak kembali berulang pada musim kemarau berikutnya.
"Makanya kami minta teman-teman penyuluh melakukan pendataan dan pelaporan agar ke depan bisa dimitigasi potensi masalahnya dan solusinya," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani