SAMARINDA – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Samarinda mengembangkan Sistem Informasi Ancaman Geospasial dan Analisis Samarinda (SIAGA Samarinda). Aplikasi tersebut disiapkan untuk mengintegrasikan berbagai data lintas instansi sebagai dasar pemetaan kondisi sosial, keamanan, hingga potensi kerawanan di tingkat wilayah.
Kepala Kesbangpol Samarinda Yosua Laden mengatakan, pengembangan sistem tersebut berangkat dari kebutuhan pemerintah daerah terhadap data yang cepat diakses dan mudah dibaca. Selama ini, informasi mengenai rumah ibadah, kependudukan, organisasi masyarakat, narkoba, pertanahan hingga kondisi ekonomi masih tersebar di sejumlah instansi.
“Kesbang ini dianggap sebagai intel-nya pemerintah daerah Kota Samarinda. Tetapi keterbatasan kami adalah data. Karena itu kami mengajukan pembuatan aplikasi dashboard yang di dalam satu sistem mencakup semua data-data tersebut,” ujar Yosua, Rabu (23/9).
Baca Juga: Pastikan Bantuan Merata, Samarinda Uji Coba Sistem Database Disabilitas Baru
SIAGA Samarinda menggunakan sistem geospasial sehingga data dapat ditampilkan berdasarkan wilayah. Pengguna nantinya dapat memilih kecamatan atau kelurahan untuk melihat informasi tertentu, mulai jumlah rumah ibadah dan organisasi masyarakat hingga potensi kerawanan.
Pengembangan juga mencakup data kebencanaan melalui kolaborasi dengan instansi terkait. Pada 2027, Kesbangpol berencana memberikan bimbingan teknis kepada anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) tingkat kelurahan agar dapat membantu memasukkan laporan kondisi di lapangan.
“Jadi nanti pengguna bisa mencari informasi apa saja, terkait tugas dan fungsi Kesbangpol di website atau dashboard tersebut,” jelasnya.
Meski mengintegrasikan berbagai data, Yosua menegaskan akses tidak akan diberikan secara terbuka kepada seluruh pengguna. Hak akses akan disesuaikan dengan kewenangan masing-masing. Data sektoral tetap berada dalam kendali instansi pemiliknya.
“Jadi misalnya akses kepala daerah dan kepala Forkopimda akan berbeda dari akses instansi lainnya,” tegasnya.
Saat ini pengembangan SIAGA Samarinda telah mencapai sekitar 60 persen dan versi demonstrasinya sudah tersedia. Kesbangpol bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda menargetkan pengembangan berlanjut hingga sistem dapat digunakan melalui telepon pintar pada 2027.
Yosua mengatakan, sistem tersebut diharapkan memudahkan pejabat maupun pimpinan daerah memperoleh gambaran kondisi Samarinda tanpa harus mengumpulkan kembali data dari berbagai instansi ketika terjadi pergantian pejabat.
“Harapan akhirnya, ketika terjadi pergantian Forkopimda, mereka tidak perlu mencari lagi apa saja data yang ada. Semuanya sudah tersaji dan tinggal bagaimana dimanfaatkan,” katanya.
Selain pemetaan kerawanan, SIAGA Samarinda disiapkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Salah satu contohnya, integrasi data pertanahan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat membantu pemerintah mengidentifikasi lahan bermasalah sebelum melakukan pengadaan tanah.
Menurut Yosua, pemetaan juga perlu mencakup faktor ekonomi dan kebencanaan. Data inflasi hingga lokasi rawan banjir menjadi bagian dari informasi yang direncanakan masuk ke dalam sistem.
“Konflik itu tidak hanya terjadi karena masalah suku dan agama, tetapi juga ekonomi. Karena itu data inflasi, bencana, sampai lokasi rawan banjir juga akan kami siapkan,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan