Kekeringan di Samarinda Meluas, BWS Salurkan Air Bersih dan Bangun Irigasi Sawah

Denny Saputra • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 17:59 WIB
PANTAU: Kepala BPBD Samarinda Suwarso memantau pembangunan saluran irigasi oleh tim BWS Kalimantan IV di Sambutan beberapa waktu lalu. (RAMA SIHOTANG/KP)
PANTAU: Kepala BPBD Samarinda Suwarso memantau pembangunan saluran irigasi oleh tim BWS Kalimantan IV di Sambutan beberapa waktu lalu. (RAMA SIHOTANG/KP)

SAMARINDA-Penanganan dampak kekeringan di Samarinda tidak hanya menyasar kebutuhan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga menjaga ketersediaan air untuk sektor pertanian. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda melakukan sejumlah intervensi di wilayah terdampak, di antaranya Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara dan sejumlah titik di Kecamatan Sambutan.

Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo melalui Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) BWS Kalimantan IV Samarinda Indrasto Dwicahyo menjelaskan, intervensi dilakukan melalui penyaluran air bersih serta dukungan sarana pengairan pertanian. Salah satu pekerjaan yang dilakukan yakni pembuatan saluran pembawa di Kelurahan Sambutan untuk membantu petani mendapatkan pasokan air ke lahan persawahan.

“Saluran pembawa yang dikerjakan memiliki panjang 312 meter. Saluran ini menghubungkan void tambang dengan saluran irigasi yang kemudian dapat dimanfaatkan petani untuk mengalirkan air ke sawah,” jelasnya Kamis (24/9).

Baca Juga: Takut Banjir Makin Parah, Warga Tolak Proyek Sodetan Loa Janan Samarinda

Menurutnya, saluran tersebut memiliki lebar bagian atas sekitar dua meter, lebar bagian bawah satu meter dan tinggi sekitar 1,5 meter. Pengerjaan dilakukan selama tiga hari dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan kebutuhan pengairan lahan pertanian di kawasan tersebut. “Saat ini saluran sudah selesai dan digunakan warga,” singkatnya.

Selain Sambutan, BWS juga melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah terdampak kekeringan, termasuk Kelurahan Lempake. Intervensi tersebut dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi ketersediaan air yang terdampak kemarau.

Indrasto mengatakan, pelaksanaan pekerjaan di Sambutan sempat menghadapi tantangan terkait izin penggalian saluran karena sebagian trase berada di lahan milik warga. Koordinasi dilakukan bersama Kelurahan Sambutan, penyuluh pertanian lapangan (PPL), kelompok tani dan pemilik lahan agar pekerjaan dapat dilaksanakan. “Untuk pelaksanaan kegiatan, kami melakukan koordinasi dengan kelurahan, PPL Kelurahan Sambutan, ketua kelompok tani dan warga pemilik lahan,” ujarnya.

Baca Juga: Impor Minyak Mentah Balikpapan Tembus USD 3,23 Miliar, Porsinya Capai 74,64 Persen

Sementara dari sisi pembiayaan, BWS memperkirakan kebutuhan penanganan kekeringan di Samarinda berada pada kisaran Rp 100-400 juta. Angka tersebut masih bersifat indikatif dan mencakup kebutuhan seperti penyediaan serta distribusi air bersih, dukungan sarana prasarana dan operasional lapangan.

“Besaran anggaran final masih bergantung pada hasil identifikasi di lapangan, luas wilayah terdampak, jumlah masyarakat yang membutuhkan serta jenis intervensi yang dilakukan. Penetapan alokasi akan disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan dan ketersediaan anggaran BWS. Dan kami harap berbagai intervensi ini bisa membantu warga termasuk para petani dalam memenuhi kebutuhan air persawahannya,” pungkasnya. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
El Nino 2026 krisis air samarinda BWS Kalimantan IV samarinda