KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Musim kemarau yang berkepanjangan di Kota Samarinda mulai memukul sektor peternakan, khususnya akibat mengeringnya lahan hijauan pakan ternak dan krisis air bersih.
Kondisi tersebut memaksa para peternak mengeluarkan biaya operasional lebih tinggi demi mencari pakan dari lokasi yang lebih jauh serta menambah porsi pakan konsentrat. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Samarinda Maskuri mengungkapkan, keringnya lahan hijauan pakan ternak (HPT) menjadi tantangan terberat peternak budidaya saat ini.
"Dampak kemarau untuk sektor peternakan pasti terasa, terutama bagi peternak pembudidaya kita. Sumber pakan hijauan ternak kita banyak yang kering, sehingga mereka harus mengambil dari tempat yang jauh dengan ongkos lebih tinggi," ujarnya, Senin (28/9).
Baca Juga: Pemkot Pendekatan Warga untuk Proyek Sodetan Sungai Loa Lah menuju Sungai Loa Janan
Meski biaya pakan membengkak, Maskuri mencatat para peternak menyiasatinya dengan memangkas porsi pakan hijauan dan menutupinya lewat pakan konsentrat tambahan. Selain kelangkaan pakan, krisis air bersih di sejumlah kawasan peternakan juga sempat mencapai titik kritis hingga membutuhkan penanganan darurat dari pemerintah daerah.
Untuk menyelamatkan kelangsungan usaha peternak, Pemkot Samarinda menyalurkan intervensi bantuan darurat melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dikoordinasikan oleh BPBD. "Kemarin intervensi kita pada peternak babi sangat mendesak. Melalui dana BTT yang dikoordinir BPBD, kami salurkan bantuan mesin pompa air beserta selang sepanjang 100 meter untuk kebutuhan minum dan memandikan ternak," jelasnya.
Bantuan tersebut memangkas beban peternak yang sebelumnya harus mengangkut air sungai menggunakan mobil pikap beralas terpal demi menjaga hewan ternak tidak mengalami dehidrasi. Memasuki peralihan cuaca menuju musim hujan, DKPP Samarinda kini mengalihkan fokus pengawasan pada potensi serangan wabah penyakit hewan ternak.
Baca Juga: Asyik Main Game Online dan Merokok saat Jam Belajar, 23 Pelajar Diangkut Satpol PP Kukar
Maskuri menegaskan, masa pancaroba dinilai jauh lebih rawan memicu penurunan imunitas ternak dibandingkan puncak musim panas. "Penyakit tertentu belum muncul selama posisi kemarau ini. Justru yang kami antisipasi adalah masa pancaroba karena sudah mulai turun hujan dua kali. Perubahan cuaca ini berpotensi memicu timbulnya penyakit," tuturnya.
Guna mengantisipasi ancaman tersebut, tenaga paramedik veteriner DKPP Samarinda terus diterjunkan ke lapangan untuk menggelar pengawasan dan surveilans berkala. Pencegahan penyakit menular berbahaya seperti jembrana pada sapi Bali hingga lumpy skin disease (LSD) tetap digencarkan melalui program vaksinasi rutin.
"Penyakit yang berisiko langsung kami tracking dan cegah melalui vaksinasi rutin, seperti vaksin jembrana dan LSD. Vaksinasi setahun sekali terus kami berikan dengan dosis yang disesuaikan dengan ketersediaan," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki