Jangan Terkecoh Hujan Lebat Samarinda, BMKG Ungkap El Nino Masih Mengancam

Denny Saputra • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:27 WIB
Prediksi curah hujan dari BMKG untuk wilayah Kaltim.
Ilustrasi prediksi curah hujan dari BMKG untuk wilayah Kaltim.

SAMARINDA – Hujan kembali mengguyur sejumlah wilayah Samarinda dalam dua hari terakhir. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kondisi tersebut belum menjadi tanda musim hujan telah dimulai.

Prakirawan Cuaca BMKG Gilang Arya mengatakan, hujan masih berpotensi terjadi hingga dasarian terakhir September dan berlanjut pada dasarian berikutnya. Meski demikian, secara umum curah hujan yang diprakirakan masih berada dalam kategori rendah, yakni 0–20 milimeter.

“Memang potensi hujan itu akan terus ada. Meskipun ini musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujannya tetap ada, tetapi biasanya singkat atau sedikit,” ujarnya, Selasa (29/9).

Baca Juga: Balikpapan Diguyur Hujan Lebat di Tengah Kabut Asap Karhutla, BMKG Sebut Masih Lokal

Hujan yang mengguyur Samarinda dalam beberapa hari terakhir bahkan memiliki intensitas lebih tinggi dibandingkan prakiraan. Berdasarkan pengukuran BMKG, curah hujan di sejumlah titik mencapai sekitar 40–50 milimeter.

“Untuk dasarian depan kami ekspektasikan tetap ada potensi hujan,” terangnya.

Gilang menjelaskan, kemunculan hujan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor lokal. Di antaranya kondisi atmosfer setelah sistem siklon tropis menjauh, tingginya penguapan karena posisi Samarinda yang dekat dengan sungai dan laut, serta penguatan angin di lapisan atas atmosfer.

Berdasarkan pemantauan sejumlah pos hujan BMKG, intensitas hujan juga tidak merata. Beberapa kawasan hanya mengalami gerimis, sedangkan hujan dengan intensitas lebih terasa terjadi di wilayah perkotaan.

Sementara itu, kondisi udara setelah hujan tetap perlu diperhatikan, terutama terkait kabut dan asap. Gilang mengatakan kedua fenomena tersebut memiliki karakteristik berbeda.

Kabut umumnya terbentuk pada pagi hari akibat tingginya kelembapan. Jika jarak pandang tetap rendah hingga siang hari, kondisi tersebut lebih mungkin berkaitan dengan keberadaan asap.

“Hujan satu atau dua hari belum cukup untuk menghilangkan asap yang telah terakumulasi. Hujan yang turun secara berkala dibutuhkan untuk membantu menurunkan intensitas asap,” terangnya.

BMKG memperkirakan Samarinda baru memasuki periode musim hujan pada akhir Oktober hingga awal November. Kondisi kemarau juga berpotensi berlangsung lebih panjang seiring pengaruh El Nino yang diprakirakan bertahan hingga akhir tahun.

Gilang mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Selain potensi hujan lebat, kondisi kabut asap juga masih perlu diantisipasi.

“Kami berpesan ke warga agar tetap waspada. Selain ancaman hujan lebat, ada juga ancaman kabut asap. Tetap gunakan masker dan jaga kesehatan,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
cuaca samarinda kabut asap Samarinda musim hujan kaltim el nino BMKG Samarinda