Kolam Retensi Pampang Capai 70 Persen, Perluasan 70 Hektare Terkendala Lahan

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:59 WIB
PEKERJAAN FISIK: Progres pengerjaan fisik Kolam Retensi Pampang tahun 2026 mencapai 70 persen. (HAFIZ/KP)
PEKERJAAN FISIK: Progres pengerjaan fisik Kolam Retensi Pampang tahun 2026 mencapai 70 persen. (HAFIZ/KP)

SAMARINDA – Pengerjaan fisik Kolam Retensi Pampang di Kelurahan Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, terus dikebut. Proyek pengendali banjir tersebut telah mencapai progres sekitar 65–70 persen pada tahun anggaran 2026 dan ditargetkan rampung sebelum akhir tahun.

Pekerjaan tahun ini mencakup lahan seluas 1,4 hektare dengan anggaran Rp9,634 miliar. Dari luasan tersebut, sekitar 1 hektare telah digali dan dikerjakan.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kolam Retensi Pampang Fajar Nugroho mengatakan, pembangunan kolam retensi menggunakan kontrak multiyears selama tiga tahun, mulai 2024 hingga 2026.

“Kontrak pengerjaan ini berjalan tiga tahun, dari 2024, 2025, sampai 2026. Di tahun 2026 ini rencana pengerjaan 1,4 hektare dan sudah terprogres sekitar 1 hektare, jadi tinggal sekitar 65 sampai 70 persen,” ujarnya, Jumat (2/10).

Secara keseluruhan, area tampungan yang telah dikerjakan dalam proyek tersebut mencapai sekitar 5,2 hektare. Fajar optimistis pekerjaan tahun ini dapat diselesaikan sesuai target sehingga kolam bisa segera dimanfaatkan sebagai tampungan air.

Baca Juga: Atasi Ancaman Kekeringan, Satgas Sodet Track Dayung Lempake hingga Siapkan Kolam Retensi Pampang

Namun, pengembangan kolam retensi dalam jangka panjang masih menghadapi persoalan pembebasan lahan. Berdasarkan perencanaan awal, kawasan Kolam Retensi Pampang diproyeksikan memiliki total luasan hingga 70 hektare.

Pembebasan lahan oleh Pemerintah Kota Samarinda dilakukan secara bertahap, dengan rata-rata maksimal sekitar 5 hektare setiap tahun. Kondisi tersebut membuat perluasan kolam bergantung pada ketersediaan anggaran dan proses pembebasan lahan.

“Tahun ini pembebasan lahannya masih terhambat karena efisiensi anggaran, sehingga untuk tahun depan kami belum tahu apakah bisa dilanjutkan perluasannya atau belum,” jelas Fajar.

Untuk mempercepat pengerjaan, kontraktor mengerahkan dua ekskavator amfibi, dua ekskavator darat, dan 10 dump truck. Pekerjaan bahkan dilakukan hingga malam hari karena kondisi di sekitar lokasi relatif tidak padat.

Selain fungsi pengendalian banjir, Kolam Retensi Pampang juga sempat direncanakan memiliki fungsi tambahan sebagai sumber air untuk mitigasi kekeringan. Salah satunya melalui rencana pengaliran air menuju Bendungan Benanga Lempake.

Namun, rencana tersebut masih dalam tahap kajian. Air di kolam retensi tidak dapat dikuras seluruhnya karena keberadaannya dibutuhkan untuk menjaga kestabilan tanggul tanah.

“Rencana pengaliran ke Bendungan Benanga Lempake masih belum dilakukan karena harus dikaji dulu. Air di kolam retensi ini tidak boleh habis dikeluarkan karena bisa berpengaruh ke struktur tanggul tanah yang bisa bergeser,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
Kolam Retensi Pampang Pengendalian banjir Samarinda Budaya Pampang Bendungan Benanga Lempake samarinda utara