KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Selama bertahun-tahun, Gina Sabrina terbiasa memperjuangkan perubahan melalui jalur advokasi. Mulai pendampingan kasus, riset, kampanye hingga mendorong perubahan kebijakan.
Namun, dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Sejauh mana perubahan bisa dilakukan jika persoalan terus muncul dan tidak berhenti? Pertanyaan ini akhirnya membawanya ke jalan yang berbeda.
Bukan meninggalkan gagasan tentang perubahan, tetapi mengubah cara untuk mengupayakannya. Kini, perempuan yang karib disapa Monik ini menghadirkan Happiness Montessori di Samarinda, layanan pendidikan anak usia dini yang menerapkan pendekatan Montessori.
Banting setir ke dunia pendidikan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Monik sebelumnya meniti karier sebagai advokat publik. Selepas kuliah, ia sempat magang di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali pada 2017–2018. Kariernya kemudian membawanya ke Jakarta. Hingga terakhir, ia menjabat Sekretaris Jenderal Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Nasional.
Baca Juga: Sensasi Creamy Teh Talua dan Gurih Nasi Bakar di Grand Verona Samarinda
Pekerjaannya bersinggungan dengan berbagai isu. Mulai advokasi kebijakan, penanganan kasus, kampanye hingga riset. Ia juga terlibat dalam sejumlah perkara dan advokasi kebijakan. Namun, ada satu titik ketika Monik merasa lelah. “Selalu ada isu, respons. Isu lagi, respons lagi. Kok enggak berhenti-berhenti?” ujarnya.
Pada 5 November 2025, ia memutuskan berhenti sejenak dari aktivitas advokasi tersebut dan kembali ke kampung halaman, Kota Tepian. Keputusan itu sekaligus memberinya ruang untuk mengingat kembali mimpi yang pernah dimiliki. Sejak dulu, Monik mengaku ingin menjadi guru taman kanak-kanak. Ketertarikannya terhadap pendidikan anak semakin kuat setelah ia menjadi seorang ibu.
Anaknya lahir pada September 2022. Sejak masa kehamilan, Monik bersama suami banyak mengikuti berbagai kelas untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua. Mulai persiapan kelahiran, menyusui hingga tumbuh kembang anak.
Keterbatasan dukungan karena tinggal jauh dari keluarga membuat keduanya merasa pengetahuan menjadi bekal penting. Mereka harus memahami kapan sebuah kondisi masih bisa ditangani sendiri dan kapan membutuhkan bantuan profesional.
Baca Juga: Sensasi All You Can Eat Grill di Samarinda, Makan Sepuasnya Sambil Karaokean Seru
Proses itu membuat perhatian Monik terhadap tumbuh kembang anak semakin besar. Ia mulai mempelajari berbagai pendekatan pendidikan, termasuk Montessori, Waldorf hingga Reggio Emilia. Montessori kemudian menjadi pendekatan yang paling menarik menurutnya.
Ketertarikan itu tidak berhenti pada proses belajar untuk anaknya sendiri. Pada Februari 2025, Monik mendaftarkan diri untuk mengambil spesialisasi Diploma Montessori. Bersamaan dengan itu, muncul gagasan untuk membangun sekolah.
“Saya bilang sama suami, kayaknya saya pengen buka sekolah deh. Dengan segala pengetahuan dan kami kebetulan punya akses untuk memberikan fasilitas ke anak, kayaknya saya bisa juga kasih ke orang lain,” katanya.
Gagasan itu kemudian diwujudkan secara bertahap. Happiness Montessori memulai kegiatan melalui pop-up class pada Februari 2026. Kegiatan tersebut mengajak anak mengikuti aktivitas motorik dan eksplorasi.
Pada Mei, program berkembang menjadi kelas stimulasi. Kemudian pada Juli 2026, Happiness Montessori mulai menjalankan program nonformal satu tahun untuk jenjang Kelompok Bermain (KB) atau play group.
Bagi Monik, membangun pendidikan anak bukan sekadar membuka tempat belajar. Ada gagasan yang ingin ia bawa melalui ruang tersebut. Selama bekerja di dunia advokasi, perubahan banyak ia dorong melalui kebijakan, hukum dan ruang publik. Kini, ia ingin melihat perubahan dari lingkungan yang lebih dekat dengan kehidupan seorang anak, yakni keluarga.
Baca Juga: Krisis Peminat Profesi Guru di Balikpapan, Rektor Uniba Ungkap Akar Masalahnya
“Saya percaya kita memang perlu melakukan perubahan, dorongan advokasi, kebijakan dan lain-lain. Tapi perubahan yang lebih sistematis sebenarnya bisa dimulai dari mana? Dari keluarga, dari anak-anak,” ujarnya.
Karena itu, Happiness Montessori tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik anak. Monik ingin anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sesuai tahap perkembangannya, belajar mandiri, mengenal lingkungan sekitar dan membangun kesadaran sejak dini.
Gagasan tersebut juga menjadi alasan ia ingin membuat pendidikan dengan pendekatan Montessori tetap dapat dijangkau keluarga kelas menengah. Bagi Monik, pendidikan yang baik tidak seharusnya hanya bisa diakses oleh keluarga dengan kemampuan ekonomi tertentu. Happiness Montessori saat ini masih dalam tahap pengembangan. Di tengah proses tersebut, Monik juga menyiapkan sejumlah langkah berikutnya.
Dalam waktu dekat, ia ingin menyelesaikan proses perizinan dan akreditasi PAUD. Setelah itu, ia berharap Happiness Montessori dapat berkembang ke jenjang taman kanak-kanak. Saat ini ada 39 anak dari berbagai jenjang di Happiness Montessori. Monik berharap mereka nantinya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dalam lingkungan yang sama.
Baca Juga: Bukan Cuma Jadi Guru, Uniba Siapkan Lulusan Kuasai Tiga Keahlian Utama
Rencana lainnya adalah menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi, termasuk daycare dan layanan full day. Menurut Monik, kebutuhan orang tua bukan hanya soal biaya pendidikan. Persoalan waktu untuk mengantar, menjemput, bekerja, serta memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi menjadi tantangan tersendiri.
“Yang susah itu bukan cuma biaya sekolahnya. Tapi eksternalitas di balik itu, soal waktu dan antar jemput,” katanya. Karena itu, ia membayangkan layanan yang memungkinkan orang tua mengantar anak sebelum bekerja dan menjemputnya setelah selesai bekerja. Anak tetap mendapatkan pendidikan, makan, waktu istirahat dan pengasuhan dalam satu lingkungan.
Bagi Monik, rencana itu menjadi bagian dari upayanya menjawab kebutuhan keluarga muda di Samarinda. Di sisi lain, ia sendiri masih menyelesaikan pendidikan yang tengah ditempuh dan berharap dapat lulus tahun ini. Sebab, setelah meminta anak-anak untuk terus belajar dan berkembang, ia merasa dirinya juga harus melakukan hal yang sama. “Kita ngajarin anak untuk terus tumbuh. Masa kitanya enggak tumbuh juga?” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo