Bukan Dimarahi Saat Berantakan, Cara Unik Sekolah di Samarinda Ini Latih Anak Mandiri

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:03 WIB
KEGIATAN POSITIF: Pembelajaran di Happiness Montessori Samarinda memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mencoba dan belajar dari proses. Orang tua juga mendapat laporan mengenai aktivitas anak.
KEGIATAN POSITIF: Pembelajaran di Happiness Montessori Samarinda memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mencoba dan belajar dari proses. Orang tua juga mendapat laporan mengenai aktivitas anak.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Salah satu gagasan yang dibawa Monik melalui Happiness Montessori adalah menghadirkan pendidikan anak usia dini dengan pendekatan Montessori yang lebih mudah dijangkau keluarga kelas menengah.

Ia melihat pilihan pendidikan anak usia dini dengan pendekatan nontradisional di Samarinda masih terbatas. Pengalamannya tinggal di Jawa menjadi pembanding, ketika ia melihat pilihan pendidikan anak yang lebih beragam dengan rentang biaya yang bervariasi.

“Kami ingin punya pendidikan dengan pendekatan nontradisional, Montessori, dengan harga yang bisa dijangkau semua orang. Mimpi utamanya pendidikan yang bisa diakses,” katanya.

Untuk mendukung keterjangkauan tersebut, pembayaran dapat dilakukan secara bertahap hingga empat kali. Namun, Monik menegaskan biaya yang lebih terjangkau tidak berarti mengurangi kualitas pembelajaran.

Baca Juga: Kisah Gina Sabrina Bangun Happiness Montessori Samarinda demi Anak Usia Dini

Happiness Montessori memiliki tiga kelompok usia. Kelas pertama untuk anak usia enam hingga 18 bulan yang masih melibatkan orang tua, dengan kegiatan yang berfokus pada bonding dan eksplorasi sensori.

Kelompok berikutnya untuk usia 18 bulan hingga sekitar 2,5 tahun, dengan kegiatan yang mencakup stimulasi sensorik dan motorik, bahasa, sosialisasi serta kemampuan mengikuti instruksi. Sementara program KB atau play group diperuntukkan bagi anak usia sekitar 2,5 hingga 4,5 tahun.

Aktivitas yang diberikan juga dirancang memiliki tujuan tertentu. Kegiatan seperti menuang, menyendok, memindahkan benda hingga aktivitas sederhana lainnya digunakan sebagai bagian dari proses stimulasi dan latihan kemandirian anak.

“Jadi sebenarnya banyak aktivitas sederhana yang punya tujuan. Anak kelihatannya cuma menuang, cuma menyendok, tapi sebenarnya ada stimulasi yang sedang dibangun,” jelasnya.

Baca Juga: Sensasi Creamy Teh Talua dan Gurih Nasi Bakar di Grand Verona Samarinda

Pembelajaran juga menerapkan pendekatan disiplin positif. Anak diarahkan memahami proses dan membangun motivasi dari dalam dirinya, bukan semata-mata mengejar pujian atau hadiah. “Bukan sekadar good job atau keren. Kami lebih melihat prosesnya. Misalnya, ‘Makasih ya, Ibu tahu ini sulit tapi kamu tetap mau coba. Meskipun belum selesai, nanti kita coba lagi,’” tuturnya.

Anak juga diberi ruang untuk mencoba dan mengalami kegagalan. Ketika belajar makan sendiri, misalnya, makanan yang berantakan tidak langsung dianggap sebagai kesalahan yang harus dicegah. Anak diarahkan menyelesaikan prosesnya dan bertanggung jawab membersihkan kembali.

“Anak akan berhamburan selama dia belajar makan sendiri. Tapi dia enggak akan pernah bisa belajar makan sendiri kalau enggak dikasih kesempatan,” katanya. Selain kemampuan dasar dan kemandirian, Happiness Montessori juga mengenalkan anak pada persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Isu lingkungan menjadi salah satunya.

Pengenalan dilakukan melalui buku, eksperimen dan kegiatan sederhana. Anak diajak mengenal sampah, plastik, hutan hingga dampaknya terhadap hewan dengan cara yang disesuaikan dengan usia mereka. Monik percaya pengalaman dan kesadaran yang dibangun sejak kecil dapat menjadi bekal bagi anak ketika tumbuh dewasa. “Kesadaran itu sebenarnya jadi bibit dan modal buat dewasa,” ujarnya.

Untuk melihat kebutuhan masing-masing anak, orang tua terlebih dahulu diwawancarai sebelum anak mengikuti program. Anak juga menjalani asesmen psikologis yang menjadi salah satu bahan bagi guru dalam menyusun pembelajaran.

Baca Juga: Sensasi All You Can Eat Grill di Samarinda, Makan Sepuasnya Sambil Karaokean Seru

Perhatian terhadap anak tidak berhenti pada proses belajar. Happiness Montessori juga memiliki pemeriksaan kesehatan bulanan. Sejumlah program pemerintah yang berkaitan dengan kesehatan anak turut diintegrasikan melalui kegiatan tersebut, termasuk pemberian vitamin A dan obat cacing sesuai program yang dijalankan.

Dengan demikian, perkembangan anak tidak hanya dilihat dari kemampuan yang dicapai di kelas, tetapi juga dari kebutuhan individual dan kondisi kesehatannya. Komunikasi dengan orang tua menjadi bagian dari pola tersebut.

Happiness Montessori menyediakan daily report melalui aplikasi khusus yang memuat aktivitas anak selama berada di sekolah, seperti waktu makan, buang air, konflik maupun kegiatan yang dilakukan selama di kelas. Orang tua juga dapat berkonsultasi mengenai perkembangan anak tanpa harus menunggu jadwal laporan.

Baca Juga: Krisis Peminat Profesi Guru di Balikpapan, Rektor Uniba Ungkap Akar Masalahnya

“Kalau orang tua tanya, ‘Tadi ngapain aja di sekolah?’ anak pasti bingung mau jawab apa. Jadi kami ingin orang tua tetap tahu proses anaknya,” katanya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Berita Samarinda Happiness Montessori Samarinda PAUD Samarinda Metode Montessori pendidikan anak usia dini