KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sektor industri di Kalimantan Timur kini menghadapi ancaman serius menyusul menipisnya ketersediaan solar industri. Situasi itu berpotensi melumpuhkan operasional sektor pertambangan, logistik, transportasi, hingga konstruksi yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi wilayah tersebut.
Ketergantungan tinggi pada bahan bakar diesel membuat gangguan pasokan solar menjadi masalah krusial. Jika tidak segera diatasi, efek domino terhadap biaya operasional dan kelancaran distribusi barang dipastikan akan memukul produktivitas perusahaan.
Baca Juga: Danrem 091/ASN Ingatkan Prajurit Soal Profesionalisme di Tengah Modernisasi Alutsista
Direktur Utama PT Barito Indomarine Mandiri, Ruddy K Rumampuk, menegaskan bahwa masalah utama saat ini bukan sekadar harga, melainkan kepastian suplai. "Industri tidak bisa bekerja berdasarkan kepastian harga saja.
Yang paling penting adalah kepastian supply. Ketika solar tidak tersedia sesuai kebutuhan dan jadwal, alat berat bisa berhenti, kapal bisa tertunda, kendaraan logistik terganggu, dan pada akhirnya kegiatan produksi ikut terdampak," kata Ruddy, Senin (5/10/2026).
Ruddy menjelaskan, kelangkaan bahan bakar memaksa perusahaan menanggung beban biaya tambahan yang tidak direncanakan. Mereka harus mencari sumber alternatif dengan biaya transportasi dan penyimpanan yang jauh lebih mahal, yang pada akhirnya akan meningkatkan ongkos produksi secara signifikan.
Baca Juga: Ubanan di Usia Muda? Bukan Cuma Faktor Genetik, Ini Sederet Penyebabnya
"Kalau perusahaan harus mencari solar secara mendadak, tentu struktur biayanya berbeda. Ada tambahan biaya transportasi, handling, storage, dan risiko keterlambatan. Pada akhirnya biaya tersebut akan masuk ke cost produksi," tambahnya.
Gangguan ini dikhawatirkan memicu rantai kemacetan logistik, mulai dari proses hauling alat berat hingga distribusi hasil produksi menuju pelabuhan. Ruddy menekankan bahwa solar adalah urat nadi industri yang dampaknya merambat luas ke kontraktor hingga rantai distribusi berikutnya.
Dalam pandangannya, persoalan ini harus diselesaikan melalui penguatan sistem distribusi, termasuk peningkatan kapasitas terminal dan koordinasi yang lebih matang antara pemasok dan pengguna. Menurutnya, seluruh pihak perlu menghitung kebutuhan secara komprehensif sebagai satu sistem rantai pasok yang utuh.
Baca Juga: Surya untuk Desa: Jalan Keberlanjutan Mengakhiri Biarpet di Benua Etam
PT Barito Indomarine Mandiri mendorong pelaku industri untuk segera melakukan perencanaan kebutuhan secara terukur melalui kontrak jangka menengah dan panjang. Perusahaan juga meminta para pemangku kepentingan untuk tidak menunggu kondisi kritis sebelum mengambil langkah nyata.
"Jangan menunggu supply benar-benar kritis baru mencari solusi. Industri membutuhkan planning. Kalau kebutuhan bulanan sudah diketahui, maka supply, storage, dan transportasinya harus dipersiapkan sejak awal," tegas Ruddy.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang maritim, logistik, dan energi, PT Barito Indomarine Mandiri menyatakan komitmennya untuk membangun solusi rantai pasok. Mereka berharap kolaborasi dengan berbagai mitra strategis dapat menjaga stabilitas energi di Kalimantan Timur demi mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (*)
Editor : Dwi Restu A