KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Isu laut dinilai tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan wilayah pesisir. Kondisi Sungai Mahakam yang menghubungkan Samarinda dengan kawasan pesisir membuat perubahan kualitas air, termasuk potensi intrusi air laut, perlu dipahami sejak tingkat sekolah.
Hal itu mendorong Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Oseanografi Program Studi S1 Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman, memperkuat literasi laut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Ketua tim pelaksana KBK Oseanografi, Zetsaona Sihotang mengatakan pihaknya terus berupaya mengenalkan hubungan antara sungai, laut dan kehidupan masyarakat Samarinda. Menurutnya, pemahaman tersebut penting karena perubahan kondisi laut dapat berpengaruh terhadap wilayah perkotaan melalui sistem sungai.
Baca Juga: Sebulan Berjibaku Padamkan Karhutla, BPBD Samarinda Gandeng Diskes Periksa Kesehatan Relawan
“Air yang kita pakai sehari-hari, air Sungai Mahakam, dan air laut di pesisir itu satu sistem. Apa yang terjadi di kota akan sampai ke laut dan sebaliknya perubahan di laut juga bisa masuk ke kota lewat sungai,” ujarnya, Senin (5/10).
Sebagaimana diketahui, September lalu, tim ini menggelar sosialisasi bertajuk Pengenalan Literasi Laut dan Lingkungan Pesisir bagi Siswa SMP 34 di Samarinda. Siswa diperkenalkan berbagai parameter kualitas air, mulai salinitas, pH, TDS, daya hantar listrik, suhu, kekeruhan hingga oksigen terlarut.
Zetsaona menjelaskan, materi tersebut menjadi dasar untuk memahami potensi intrusi air laut. Kondisi ini dapat terjadi ketika debit sungai menurun saat kemarau sehingga dorongan air tawar melemah dan air laut dapat masuk lebih jauh ke badan sungai, terutama ketika pasang.
“Intrusi air laut bisa diukur secara ilmiah. Siswa perlu tahu bahwa perubahan kualitas air tidak cukup hanya dirasakan dengan lidah, tetapi bisa dibuktikan dengan data,” jelasnya.
Baca Juga: Konsentrasi PM 2,5 Tembus 62 Mikrogram, Kualitas Udara Samarinda Masuk Kategori Tidak Sehat
Pembelajaran dilakukan secara interaktif dengan mengacu pada kerangka Ocean Literacy Framework UNESCO. Tim membawa Portable Multiparameter Water Quality Meter dan 5 in 1 Water Quality Tester untuk menguji sampel air laut, Sungai Mahakam, dan air PDAM secara langsung di depan siswa.
Menurut Zetsaona, pembelajaran berbasis pengukuran membuat konsep yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Terlebih, air baku PDAM Samarinda sebagian besar berasal dari Sungai Mahakam sehingga kualitas sungai berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
"Kondisi tersebut semakin relevan setelah sepanjang Agustus hingga September 2026 kadar klorida Sungai Mahakam dilaporkan mencapai 250 ppm akibat kemarau panjang. Dampaknya, Perumda Tirta Kencana Samarinda sempat mengurangi produksi pada sejumlah instalasi pengolahan air," tambahnya.
Kini, tim tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Zetsaona menyebut pihaknya tengah menyusun Toolkit Literasi Laut yang ditujukan untuk membantu pelajar memahami isu kelautan dan lingkungan secara lebih kontekstual. “Sekarang kami sedang drafting buku,” singkatnya.
Dia berharap materi tersebut nantinya dapat menjadi sarana pembelajaran yang bisa digunakan lebih luas oleh pelajar dan pendidik. “Menjaga laut bisa dimulai dari Samarinda. Dengan merawat Sungai Mahakam dan menggunakan air secara bijak, kita sudah ikut menjaga laut,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo