KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda kian meluas hingga menembus angka 246 kali kejadian dengan total lahan terbakar mencapai 608,18 hektare.
Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda per 4 Oktober 2026, kobaran api kerap berulang membakar area yang sama meski petugas telah melakukan pendinginan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, fenomena api yang menyala kembali dipicu oleh kondisi cuaca terik serta adanya endapan batu bara di bawah permukaan tanah.
Baca Juga: Kalap Uang Proyek Habis untuk Judi Online, Karyawan di Samarinda Larikan Triton dan Alat Las
"Sampai dengan rekapan kemarin sore itu sekitar 246 kali kejadian dan luasan hektarnya ini 608,18 hektar. Ada beberapa kejadian kebakaran itu di titik lokasi terdekat yang pernah terbakar dalam satu area," jelasnya, Senin (5/10).
Ia mencontohkan peristiwa di Jalan Protokol Sultan Sulaiman, tepatnya di kawasan Pelita 8 yang membelah Kelurahan Sambutan dan Kelurahan Pulau Atas. Kobaran api yang berhasil dijinakkan pada pukul 17.00 Wita tiba-tiba kembali membara pada malam hari.
"Sekitar jam 5 sore sudah bisa kita padamkan. Ternyata di malam hari sekitar pukul 11 malam enggak jauh dari lokasi itu, kebakaran lagi sampai menyeberang jalan," bebernya. Menurut pantauan tim di lapangan, kawasan Pelita 8 seperti di Blok B dan Blok D memang memiliki kandungan batu bara di bawah tanah. Kondisi ini diperparah oleh vegetasi semak dan rumput yang mengering akibat paparan terik matahari.
Baca Juga: Bukan Krisis Batu Bara, PLN Tegaskan sedang Pelihara Pembangkit
Guyuran hujan yang sempat turun dalam beberapa hari terakhir di Kota Tepian ternyata belum merata. Akibatnya, potensi karhutla di sebagian besar wilayah rawan belum sepenuhnya mereda.
"Penurunan hujan kemarin di beberapa titik memang bisa mencegah percepatan kebakaran. Tapi untuk daerah-daerah yang saat ini secara frekuensi masih sering terjadi kebakaran, ternyata tidak terkena hujan," terangnya.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Bantuas, ketika hujan deras hanya mengguyur kawasan perumahan transmigrasi, sementara titik api di RT 1 tetap membara karena lokasinya cukup berjauhan.
Selain cuaca, tim pemadam di lapangan menghadapi rintangan geografis yang berat. Mobil tangki penyuplai air kerap tidak dapat mendekati titik api karena akses jalan yang terjal, sempit, dan dipenuhi semak belukar tinggi.
Baca Juga: Kredit Kaltim Melaju, UMKM Tertinggal
"Akses suplai air dengan tangki tidak terjangkau, sehingga kami memanfaatkan air parit dan drainase. Itu tidak cukup satu atau dua selang dan tidak bisa langsung disemprotkan, akhirnya kita sambung estafet dengan water tank," ungkapnya.
Ia menambahkan, medan yang ekstrem memaksa personel gabungan dari BPBD, Disdamkarmat, Satpol PP, hingga relawan turun tangan secara manual membuka jalur rintisan ke pedalaman semak.
"Kendaraan roda empat enggak bisa masuk, roda dua pun enggak bisa. Akhirnya relawan membuka jalan setapak, lalu tim gabungan ikut masuk bergotong-royong membawa selang ke bagian dalam," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki