Dampak Karhutla Kepung Samarinda, DLH Perkuat Pantauan Kualitas Udara  

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:30 WIB
POLUSI: Kualitas udara Samarinda kembali menurun akibat karhutla yang berpotensi meningkatkan paparan polusi bagi masyarakat. (HAFIZ/KP)
POLUSI: Kualitas udara Samarinda kembali menurun akibat karhutla yang berpotensi meningkatkan paparan polusi bagi masyarakat. (HAFIZ/KP)  

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kualitas udara di Kota Samarinda kembali mengalami penurunan menyusul maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa titik, termasuk kawasan Makroman dan Sambutan.

Berdasarkan hasil koordinasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kepulan asap karhutla Makroman dominan bergerak mengarah ke wilayah Samarinda Utara mengikuti kecepatan dan arah angin.

Baca Juga: Karhutla Capai 50 Hektare di Satu Lokasi, BPBD Samarinda Kembali Minta BNPB Kerahkan Water Bombing

Guna mengukur tingkat pencemaran tersebut, DLH Samarinda mengoptimalkan penggunaan alat pemantau portabel di titik-titik rawan kabut asap.

Pengendali Dampak Lingkungan DLH Kota Samarinda Iwan Setiawan menjelaskan, alat portabel tersebut memiliki prosedur operasional khusus agar hasil penghitungan parameter partikulat akurat.

"Kalau untuk mobile, kita punya alat uji. Tapi untuk menghitung nilai parameter itu, pengukuran minimal harus dilakukan satu jam supaya mendapatkan angkanya," ujarnya, Senin (5/10).

Baca Juga: Kualitas Udara Mahulu Tidak Aman, Diskes Ingatkan Warga Waspadai Kabut Asap

Ia menambahkan, pengukuran sesaat tidak bisa serta-merta menyimpulkan kualitas udara dalam satu hari penuh, sebab kondisi konsentrasi asap terus berubah.

"Sesuai aturan Standar Metode, pengukuran idealnya dilakukan selama 24 jam. Jangkauan pembacaan alat mobile ini juga terbatas, radiusnya tidak sampai satu kilometer di sekitar titik pasang," jelasnya.

Selain mengandalkan armada mandiri, DLH Samarinda terus berkoordinasi secara berkala dengan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kaltim yang memiliki stasiun pemantau real time 24 jam di Jalan KH Ahmad Dahlan.

Sebelumnya, DLH juga menjalin kemitraan dengan Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Balai Standar Jasa Pengujian Industri (BSJPI) Samarinda untuk pemantauan partikel debu halus (PM 2,5).

"Kemarin itu kami sempat pasang tiga alat bantuan selama satu bulan penuh, yakni di Kelurahan Bantuas, Makroman Pulau Atas, dan Lempake," ungkapnya.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Petani Kubar Bimbang di Tengah Semburat Bunga Tanaman Buah

Dalam skema kerja sama tersebut, instansi mitra meminjamkan unit instrumen pengukur, sementara DLH Samarinda menugaskan personel teknis untuk berjaga secara bergantian.

"Peralatan dari mereka, tapi kebutuhan daya listrik dan tenaga SDM dari DLH Samarinda untuk memantau selama 24 jam nonstop dari jam delapan pagi hingga keesokan paginya," tambahnya.

Kendati demikian, peminjaman kembali fasilitas instrumen pengujian tersebut sangat bergantung pada ketersediaan jadwal operasional masing-masing instansi mitra penguji.

"Tergantung jadwal mereka, tidak bisa mendadak karena instansi tersebut juga memiliki agenda pengujian rutin untuk sektor usaha lain," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
Kota Samarinda DLH Suwarso kualitas udara karhutla