SAMARINDA – Pengoperasian 10 unit insinerator di sejumlah titik di Samarinda mulai mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, fasilitas tersebut telah membakar 750,36 ton sampah.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Taufiq Fajar mengatakan, capaian tersebut belum maksimal karena 10 unit insinerator tidak langsung beroperasi bersamaan sejak awal tahun.
Pada Januari hingga Juni, pengoperasian masih dilakukan bertahap untuk pelatihan petugas, uji coba mesin, hingga penyesuaian di masing-masing lokasi. Pengoperasian seluruh unit secara serentak baru dilakukan pada Juni.
“Di bulan Juni baru dilaksanakan serentak secara bersamaan. Jadi dalam laporan ini kami sudah menyusun capaian kinerja dari 10 unit yang tersedia,” ujar Taufiq, Rabu (7/10).
Berdasarkan catatan DLH, total hari operasi seluruh mesin mencapai 301 hari dengan rata-rata pembakaran sekitar 2,49 ton sampah per hari. Angka tersebut masih jauh di bawah kapasitas ideal yang mencapai sekitar 8 ton sampah per hari untuk pengoperasian selama delapan jam.
Baca Juga: Insinerator Sampah Samarinda, Solusi Pengurangan Sampah ke TPA Hadapi Berbagai Tantangan
“Memang masih rendah, karena kalau dihitung rata-rata pembakaran per hari baru sekitar 2,49 ton. Tapi harus diingat mesin belum beroperasi secara aktif semuanya,” jelasnya.
Selain pengoperasian yang belum penuh, persoalan lain terdapat pada kondisi sampah yang masuk dari tempat penampungan sementara (TPS). Sampah masih banyak tercampur sehingga petugas harus melakukan pemilahan sebelum memasukkannya ke insinerator.
Proses tersebut menyita waktu operasional mesin dan membuat kapasitas pembakaran tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kalau sampah campur datang, untuk memilahnya saja bisa sampai tiga hari. Setelah dipilah baru bisa dilakukan pembakaran,” tambah Taufiq.
Karena itu, DLH Samarinda mendorong penerapan TPS terpilah sebagai bagian dari pengelolaan sampah jangka panjang. Sampah yang dapat dibakar diharapkan langsung diarahkan ke insinerator, sedangkan sampah organik diolah dan hanya residunya yang dibawa ke TPA.
“Kami cita-citanya semua TPS itu TPS terpilah. Dalam waktu dekat kebutuhan TPS terpilah ini untuk mendukung insinerator supaya bisa berfungsi maksimal,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan