Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Upacara Bendera Hari Merdeka

Muhammad Ridhuan • Sabtu, 24 Agustus 2024 - 17:24 WIB

ILUSTRASI: Upacara Bendera di IKN
ILUSTRASI: Upacara Bendera di IKN

Oleh: Sunaryo Broto*)

 

Komplek rumahku di Bontang tak mau kalah dengan istana negara. Jalan di antara rumah meriah dengan bendera. Kalau malam lampu merah putih menghiasinya. Bendera-bendera kecil berkibar melintang di atas jalan.

Di kanan kiri umbul-umbul melambaikan tangan. Meriah menyambutnya. Hampir tiap tahun pada bulan Agustus komplek rumahku berhias seperti itu. Rumahku pun berhias bendera merah putih selama sebulan.

Kami juga menyelenggarakan upacara bendera di lapangan basket, di pinggir bundaran permukiman. Waktunya lebih dulu dibanding upacara di istana negara. Warga dan anak-anak berdatangan menyambutnya.

Mereka memakai kaos dan celana bernuansa merah putih. Acaranya bukan hanya upacara tetapi juga jalan sehat dan berbagai lomba. Tentunya ada sarapan pagi sederhana ala lansia, makanan umbi-umbian serba rebusan.

Kebetulan cuaca cerah. Langit biru berhiaskan sedikit awan. Biasanya hujan. Jam 7 lebih warga mulai berdatangan lalu masuk lapangan kecilnya. Petugas upacara semua dari ibu-ibu yang merupakan peserta terbanyak. Bapaknya hanya sekitar 30-an orang.  

Sudah beberapa tahun aku tak ikut upacara karena pensiun. Sejak menjadi siswa sampai bekerja aku rajin upacara bendera. Hanya waktu mahasiswa saja tidak upacara. Itu biasa saja. Hampir semua teman juga melakukan hal yang sama.

Kali ini ada dua undangan upacara. Biasanya tak ada undangan upacara setelah pensiun. Aku memilih salah satunya yang dekat dengan rumah. Istriku pun ikut serta.

Upacara itu singkat dan padat. Ada komandan regu dan komandan upacara. Ada menyanyi lagu Indonesia Raya, Hari Kemerdekaan, dan Syukur. Ada pembacaan Pembukaan UUD dan Pancasila. Peserta pun menirukannya. Tentunya ada doa seperti hanya pada setiap acara. Peserta mengikutinya dengan santai dan tertib. Mereka saling mengabadikan momen upacara. Anak-anak juga menyertainya sesukanya.

Masih ingat, Pembukaan UUD diawali dengan, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan… Memang setiap negera berdaulat harus merdeka. Begitu juga rakyatnya.

Pancasila juga diawali dengan ketuhanan yang maha esa dan ditutup dengan sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ujungnya harus adil. Meski adil itu relatif tetapi semua pemimpin harus mengupayakannya. Pikiran masih dipenuhi kata-kata yang diucapkan pada setiap upacara itu.  

Jalan santai mengitari komplek perumahan yang tak seberapa luas. Ada sekitar 60 jumlah jalan yang memisahkannya dan sekitar 700-an rumah yang mengitari jalan tersebut. Separuh penghuninya mungkin usia pensiunan. Kami saling menyapa warga yang tidak ikut jalan santai.

Mungkin ada 1,5 km kami berjalan. Badan sudah keringatan. Saatnya makan aneka kudapan rebusan. Dari pisang, singkong, jagung, sampai kacang sambil bercengkerama membicarakan hal yang tak perlu. Waktu begini kami manfaatkan untuk pergaulan sosial. Sederhana dan sehat. Cocok untuk kami, yang kebanyakan usia pensiunan. 

Mentari sudah mulai menyengat kepala. Saatnya kaum lansia berteduh. Lomba-lomba diadakan, lomba yang lucu-lucu untuk hiburan. Kebanyakan untuk anak-anak dan ibu-ibu. Lomba sendal kayu, lombak tangkap bebek, lomba bantal air, lomba pekik merdeka, lomba sepeda hias dan sebagainya. Lomba andalan adalah tarik tambang meski isyunya tambangnya sekarang menjadi komuditas yang dijanjikan untuk dikelola berbagai pihak. 

Sehabis upacara seperti biasa menonton TV di rumah, mengikuti upacara di istana negara Jakarta dan Istana Negara IKN di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kaltim. Ini pertama kali upacara negara dilakukan di dua tempat. Sepaku, mendapat kehormatan menjadi ibu kota negara yang baru. Jaraknya sekitar 200 km dari rumahku.

Upacara tampak megah. Kabarnya ada 1.300 tamu yang diundang. Belum para staf dan petugas upacara. Mereka hadir dengan baju adat berbagai daerah seperti juga presiden dan ibu negara. Petugas dan tim kesenian juga lancar membawakan acara. Berapa biayanya? Setiap menyinggung biaya, pikiranku langsung menuju defisit APBN, lalu utang dan pajak naik atau kurangi subsidi. Siapa yang akan membayar utang itu?

Di sela waktu, lagu Berkibarlah Benderaku dari Gombloh menentramkan. Berkibarlah bendera negeriku/ berkibarlah engkau di dadaku/ Tunjukkanlah kepada dunia/ semangatmu yang panas membara…

Gombloh salah satu musisi idola. Hampir semua album kasetnya saya punya. Lagunya unik dan bagus-bagus syairnya. Ada yang berjudul Seloroh Pendek, Denok-Denok Debleng, 3600 detik, Ki Gede Mataram, Sasanti Anropologi. Judulnya pun unik. Tapi yang terkenal memang Kebyar-Kebyar dan Berkibarlah Benderaku.

Kadang saya membuka HP. Di tengah kemeriahan ini masih saja ada suara-suara lain berseliweran di media sosial saya. Dikirim puisinya Taufik Ismail, Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita. Taufik alumni dokter hewan tetapi sudah menulis puisi waktu mahasiswa. Buku puisinya Banteng dan Tirani merangkum puisi waktu pergerakan mahasiswa tahun 1966.

Ini lirik puisinya. Negeri ini masih dicekik ribuan trilyun utang berbungan haram/ Jika negeri telah mampu melunasi hutang itu, silakan teriak merdeka! Jika belum mampu, lebih baik diam dan berpikir. Malu kita… Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang. Mereka sering kali disiksa dan dianiaya/ Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka, memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan. Jangan teriak merdeka! Malu kita… Taufik salah satu penyair senior kita yang telah banyak berkarya.

Kyai Mustofa Bisri dari Rembang juga menulis puisi Negeri Haha Hihi. Beliau sering menulis dan membaca puisi. Isinya dalam meski dengan bahasa sederhana. Tulisnya, Bukan karena banyaknya grup lawak maka negeriku selalu kocak… banyak yang pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan… penegak keadilan jalannya miring/ Penuntut keadilan kepalanya pusing/ Hakim main mata dengan maling/ Wakil rakyat baunya pesing. Hihi.

Penyair lain beda generasi asal Solo, Sosiawan Leak juga menulis puisi di berandanya, Upacara Brutal. Puisinya, ketika kemegahan bangsa cuma merupa upacara/ di depan penderitaan kawula, kekayaan negara jadi ajang pamer semata… kala hukum dijungkirbalikkan hingga keadilan selalu pingsan, etika ditikam bertubi-tubi sampai moral mati berkali-kali… Masih banyak puisinya lain yang bertebaran, Tukang kayu yang lugu, Dagelan.

Juga foto-foto siswa SD yang berangkat sekolah dengan bergelantungan menyeberangi sungai besar. Jembatannya rusak sungai besar, yang ada melewati sisa jembatan seadanya. Sungguh miris melihat hal ini. Narasinya juga bikin getir. Ini terjadi tahun berapa dan apa sudah ditindaklanjuti penangannya? Belum, jalan berlumpur di pelosok negeri, anak kecil mengamen di pinggir jalan. Masih banyak nada minor pada lini masa media sosial HP. 

Selepas upacara 17 Agustus, memang masih ada tanda tanya besar. Aku sebenarnya tak mau berpikir itu. Toh bukan urusanku. Urusan pensiunan itu menjaga supaya hidup tetap sehat. Tidur lancar dan bisa beraktivitas ringan. Tak usah berpikir aneh-aneh. Tapi info-info itu selalu masuk beranda HP. Tidak dibaca bagaimana, terlanjur dibaca. Tak ada yang salah. Mereka menyuarakan kenyataan. 

Aku tidak apriori pada pembangunan IKN yang sudah relatif dekat dengan kotaku. Kita, orang Kaltim setuju saja kotanya menjadi ramai dan berkembang. Hutan tanaman industri telah menjadi sebuah cikal bakal kota. Gedung-gedung dibangun. Insfrastruktur diadakan. Jalan-jalan dan tranportasi beroperasi. Bahkan gedung Istana Garuda dibangun megah lengkap dengan hiasan patung dan tamannya. Para tamu berdatangan. Juga wartawan dan influencer. Fotonya berseliweran di media. 

Apa semua sudah cukup? Tetapi semua ada jalannya. Kalau belum kuat membangun megah ya bertahap. Kata perancang awal, Kepala Bapenas dulu, Andrinov Chaniago pernah menyampaikan, itu bukan untuk kota bisnis tetapi kota pemerintahan dan pembangunannya bertahap sampai 2045, kalau dikebut ya bagaimana? Terlebih sampai ditawarkan konsesi sampai 190 tahun. Saya juga tak tahu itu mengacu pada aturan apa.

Di tengah keriangan hari kemerdekaan, apa aku masih bisa teriak merdeka meski “malu” pada Taufik Ismail? Juga potret-potret kondisi memprihatinkan di pelosok tanah air, meski tambang minyak, gas, batubara, nikel, emas digali terus yang menyisakan lobang-lobang bekas tambang yang masih banyak menganga di sekitar Kaltim. 

Yang dikawatirkan itu utang. Sudah tembus berapa ribu trilyun rupiah? Lihat data, sudah lebih dari 8 ribu trilyun. Itu sudah mencapai sekitar 39 persen dari Produk Domestik Regional Bruto. Kalau Faisal Basri, ekonom UI sudah teriak terus utang yang membengkak dan pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5 persen, bagaimana nanti mau bayar utangnya? Sampai berapa generasi? Bisakah negara membangun tanpa utang?

Dari pada pusing memikirkan berbagai pertanyaan itu, kita nikmati saja perayaan kemerdekaan ini apa adanya. Mengikuti upacara sederhana dan lomba lucu-lucuan saja. Sayup-sayup masih berhembus lagu Syukur dari Husein Muntaha. Lagu itu yang menentramkan hati untuk selalu merasa bersyukur meski dinamika politik sekarang begitu tinggi tensinya. Bersyukur masih sehat di usia kepala enam. Masih bisa olah raga jalan kaki dan menikmati waktu. Syukur aku sembahkan di kehadiratMu Tuhan. (dwi/rdh)

 

*) Sunaryo Broto, menulis cerpen, puisi, esai dimuat di berbagai media masa. Tinggal di Bontang. Lebih dari 20 bukunya telah terbit. Buku Cerpen Perjumpaan di Candi Prambanan mendapat award prosa unggulan dari Kantor Bahasa Kaltim 2021. Tahun 2024 menerima penghargaan bidang kebahasaan dan kesastraan selama minimal 40 tahun berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra dari Kementrian Dikbudristek.

Editor : Muhammad Ridhuan
#Istana Garuda #IKN #hut ri #agustus #upacara 17 agustus #istana negara